Buat Para Ayah Yang Menyimpan Resah Dengan Senyum Merekah Januari 31, 2009
Posted by amriltg in perjalanan.Tags: ayah, kenangan
add a comment

KEJADIAN disuatu siang beberapa minggu lalu yang saya alami saat menumpang taksi dari kantor di kawasan Lebak Bulus menuju workshop di Cakung sungguh sangat membekas dihati. Dering suara handphone sang supir seketika membangunkan saya dari lelap tidur.
“Ya, Ma? Ada apa? Papa lagi nyetir nih,” kata sang supir taksi yang memegang handphone di tangan kanan dan kemudi di tangan kiri.
“Apa? Susu si Nisa sudah habis? Kan’ baru kemarin dibeli?. Iya..ya..tiga hari lalu. Tapi kok cepat amat sih habisnya,Ma?. Biasanya kan’ sekaleng itu bisa buat seminggu?,” sahut si supir menjawab panggilan telepon dan berusaha tidak kehilangan konsentrasi mengemudi.
Saya pura-pura tidak memperhatikan dengan membuang pandangan ke arah samping. Ruas tol Jakarta Outer Ring Road cukup sepi saat itu. Tak banyak kendaraan yang berlalu lalang disana.
“Iya, Ma. Sabar. Nanti Papa beliin setelah kembali dari Pool malam ini,” ujar sang supir akhirnya. Helaan nafas panjang terdengar saat ia menutup telepon.
Menyadari saya memperhatikannya, sang supir mendadak berbalik ke belakang ditempat saya duduk. Raut penyesalan terlihat di wajahnya.
“Maaf ya pak, jadi terganggu tidurnya,”kata si supir santun,”Ini nih anak saya cepat banget minum susunya. Masa’ baru tiga hari lalu dibeli udah habis?. Moga-moga setoran kali ini bisa cukup beli sekaleng”.
Saya tersenyum dan mengangguk mafhum. Sang supir balas tersenyum getir.
Sebagai sesama ayah, saya paham keresahan yang ia alami.
Selarik Kenangan di Bone-Bone Januari 8, 2009
Posted by amriltg in keluarga, kenangan.Tags: ayah, kenangan
add a comment
SAYA menggunakan kesempatan pulang ke Makassar tanggal 24-25 November 2007 lalu untuk mencari dan mengoleksi foto-foto lama saya. Untuk menghindari kerusakan dan agar tetap lestari sepanjang masa, saya membawa beberapa foto untuk di-scan dan disimpan dalam format digital.
Diantara foto-foto, hampir semuanya membangkitkan kenangan masa kecil yang indah. Seperti foto saya dibawah ini.
Foto diatas diambil didepan rumah kami di Kecamatan Bone-Bone, Kabupaten Luwu (kurang lebih 500 km dari Makassar) sekitar tahun 1979. Kami sekeluarga bermukim disana mulai tahun 1978-1981, mengikuti ayah yang dipindahkan bekerja ke IPS (Irrigation Project Scheme) Departemen Pertanian. Pada latar belakang foto itulah kantor ayah saya dan “gubuk” kecil didepannya adalah tempat generator listrik yang dinyalakan setiap malam tiba.
Lelaki Yang Selalu Mencatat Kenangan Januari 2, 2009
Posted by amriltg in kenangan.Tags: ayah, diary, kenangan
add a comment
“Jangan lupa kirimkan Papa buku diary kosong yang baru untuk tahun depan ya, Nak”
Kalimat itu kerap diucapkan oleh ayahanda tercinta saya, Karim Van Gobel, setiap akhir tahun menjelang. Hanya sebuah Buku Diary Baru Kosong. Dan saya, dengan semangat membuncah, akan segera berangkat ke Toko Buku mencari pesanan rutin akhir tahun ayah saya itu. Bagi saya, menganugerahkan sebuah buku diary baru kepada ayah saya-tiap akhir tahun-merupakan sebuah kehormatan tersendiri yang begitu besar dan berharga. Sebuah rutinitas yang senantiasa saya lakoni dengan riang, sejak merantau ke Jakarta tahun 1995.
Ayah saya adalah lelaki yang begitu tekun mencatat kenangan, dalam serpih terkecil sekalipun, di setiap rekam jejak perjalanan hidupnya dalam buku diary. Konon, beliau sudah memulai menulis diary sejak saya lahir (hal yang kemudian menginspirasi saya untuk menulis blog anak pertama saya, Rizky, sejak ia lahir tahun 2002).
Dapat dibayangkan sudah sekitar 37 buku diary yang beliau tulis hingga saat ini (saya lahir tahun 1970). Dan lelaki kelahiran Gorontalo, 12 Desember 1939 ini tetap setia mencatat kenangan yang datang melintas, menggoreskan kesan dan meninggalkan jejak di hati. Buku-buku diary beliau tersimpan rapi di lemari kamar, meski beberapa diantaranya sudah lusuh dan kumal digerus zaman. Saya membayangkan, kelak dikemudian hari jika saya berkeinginan untuk membuat buku otobiografi maka saya tidak perlu repot-repot mencari referensi karena setiap kenangan tentang saya dan keluarga sudah terdokumentasi dengan baik.

