<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Perjalanan Menuju Bening Jiwa</title>
	<atom:link href="http://atgpage.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://atgpage.wordpress.com</link>
	<description>Refleksi Hati Amril Taufik Gobel</description>
	<lastBuildDate>Thu, 09 Jul 2009 03:17:17 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='atgpage.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Perjalanan Menuju Bening Jiwa</title>
		<link>http://atgpage.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://atgpage.wordpress.com/osd.xml" title="Perjalanan Menuju Bening Jiwa" />
	<atom:link rel='hub' href='http://atgpage.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Spirit Kehangatan Dari Potret Keluarga</title>
		<link>http://atgpage.wordpress.com/2009/03/16/spirit-kehangatan-dari-potret-keluarga/</link>
		<comments>http://atgpage.wordpress.com/2009/03/16/spirit-kehangatan-dari-potret-keluarga/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Mar 2009 03:31:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>amriltg</dc:creator>
				<category><![CDATA[keluarga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://atgpage.wordpress.com/?p=100</guid>
		<description><![CDATA[Malam kian tua. Sudah pukul 23.30 saat itu. Dalam kesenyapan, diruang tamu, ayah menemani saya yang tengah resah karena menunggu bagasi tertinggal di Jakarta ketika pulang ke Makassar tahun silam. Kami berdua duduk di atas kursi sofa rotan. Di atas meja kopi kami berdua sudah habis setengah dari isinya. Mendadak suara bariton ayah saya memecah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=atgpage.wordpress.com&amp;blog=6551511&amp;post=100&amp;subd=atgpage&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Malam kian tua. Sudah pukul 23.30 saat itu.</p>
<p>Dalam kesenyapan, diruang tamu, ayah menemani saya yang tengah resah karena menunggu <a href="http://daengbattala.com/?p=512">bagasi tertinggal di Jakarta ketika pulang ke Makassar tahun silam</a>. Kami berdua duduk di atas kursi sofa rotan. Di atas meja kopi kami berdua sudah habis setengah dari isinya.</p>
<p>Mendadak suara bariton ayah saya memecah keheningan.</p>
<p>&#8220;Coba kamu lihat potret-potret perkawinan kalian di dinding,&#8221; kata beliau pelan sambil menunjuk ke arah empat potret besar dihadapan saya.</p>
<p>Di dinding, mulai dari sisi kiri terpampang foto pernikahan saya tanggal 10 April 1999 di Yogya dengan mengenakan busana adat Jawa, disamping potret saya foto pernikahan adik saya Buddy Suryanto Gobel bulan Mei 2000 mengenakan busana khas Padang tanah kelahiran Rika, istrinya. Disamping potret pernikahan Budi-Rika, ada foto pernikahan adik perempuan saya Tri Wahyuni (Yayuk) Gobel bersama suaminya Iwan Surotinoyo menggunakan busana Gorontalo yang dilaksanakan pada bulan September 1999. Disebelah foto Yayuk-Iwan, ada foto pernikahan adik bungsu saya Diah Ramayanti (Yanti) Gobel bersama Herlambang Susatya tahun 2006 mengenakan busana adat Gorontalo.</p>
<p>&#8220;Coba lihat lagi potret keluarga kita semua pada dinding tepat diatas kepalamu,&#8221; kata ayah saya sambil menunjuk sebuah potret besar yang berisi foto kami semua bersama ibu dan ayah komplit ber-mejeng ria bareng istri/suami beserta anak-anak saat lebaran idul fitri tahun 2005. Ketika itu, kami semua berkumpul lengkap dan memutuskan berfoto bersama di sebuah studio foto di Jl.Mappanyuki Makassar. Yanti belum menikah saat itu.</p>
<p><a title="fotokeluarga-resize.jpg" href="http://daengbattala.com/wp-content/uploads/2008/01/fotokeluarga-resize.jpg"><img src="http://daengbattala.com/wp-content/uploads/2008/01/fotokeluarga-resize.jpg" alt="fotokeluarga-resize.jpg" /></a></p>
<p><span class="Apple-style-span" style="font-style:italic;"><br />
</span></p>
<p><em>Foto keluarga kami yang diambil saat lebaran tahun 2005. Dari kiri ke kanan (berdiri), saya dan keluarga (istri, Rizky &amp; Alya), Budi dan istrinya (Rika) dan Iwan (suami Yayu) sementara dalam posisi duduk adalah Yusril (putra Yayu/Iwan), Yanti (waktu itu masih belum menikah), kedua orang tua saya, Yayu dan Raihan (putra Rika/Budi)</em></p>
<p>Mendadak keharuan terasa menyesak dada. Saya ingat ketika itu Rizky masih berusia 3 tahun dan Alya berumur setahun. Betapa repotnya saya dan Budi, mengatur anak-anak kami berfoto bersama. Rizky tidak mau memakai baju koko baru yang sudah kami siapkan, dia memilih mau pakai bajunya yang lama, sementara Raihan&#8211;anak Budi/Rika&#8211;mengamuk mau foto sendiri saja dan tak mau foto bareng.</p>
<p><span id="more-100"></span></p>
<p>Syukurlah prosesi foto bersama berjalan lancar (setelah diulang tiga kali) meski diwarnai insiden &#8220;unjuk rasa&#8221; dua cucu lelaki ayah/ibu dari Cikarang dan Balikpapan ini. Saya menghela nafas, kapan lagi kami membuat foto keluarga bersama seperti ini ketika anak-anak kami sudah tumbuh besar, Yanti sudah menikah dan memiliki anak satu dan pasangan Yayu-Iwan sudah menambah dua anak lagi setelah 3 tahun berlalu?. Momen lebaran yang kami harapkan bisa kumpul bersama jarang terjadi. Kadangkala disaat lebaran saya sekeluarga tidak mudik (karena pulang ke kampung halaman istri saya di Yogya) atau suatu saat kami sekeluarga datang tapi ada anggota keluarga kami yang lain tidak datang karena suatu alasan.</p>
<p>Saya masih belum mengerti maksud ayah saya menunjukkan foto-foto keluarga tersebut.</p>
<p>&#8220;Terakhir, nak, coba kamu lihat potret Papa dan Mama waktu baru menikah dulu, disana,&#8221; kata ayah saya lagi sambil menunjuk sebuah potret usang, foto kedua orang tua saya yang dpasang disamping potret keluarga komplit kami. Ayah saya begitu tampan saat itu, sebaris kumis tipis terlihat diatas bibirnya. Beliau memakai jas hitam mendampingi ibu saya yang mengenakan kebaya sambil tersenyum malu.</p>
<p>&#8220;Foto itu diambil seminggu setelah Papa dan Mamamu menikah tahun 1967. Kamu tahu kenapa ayah masih memasangnya?&#8221;, tanya ayah sambil meraih gelas kopinya lalu meminumnya perlahan.</p>
<p>Saya menggeleng.</p>
<p>&#8220;Supaya kenangan itu tetap selalu terasa hangat disini meski telah lama dibekukan waktu,&#8221; ucap ayah saya tenang.</p>
<p>Saya masih tak mengerti.</p>
<p>&#8220;Bayangkan, disuatu waktu, saat kamu memandang sebuah foto keluarga di ruang tamu dimana semua yang diambil gambarnya itu berpakaian paling rapi serasi, berdandan paling cantik dan tersenyum penuh kebahagiaan ke arah kamera maka kesan awal yang langsung terbit di hatimu adalah gambaran keutuhan dan kehangatan sebuah keluarga, bukan begitu?&#8221; kata ayah pelan.</p>
<p>Saya mengangguk.</p>
<p>&#8220;Bertahun-tahun potret itu dipasang didinding, tak pernah ada yang berubah, kecuali mungkin warna potret sedikit kusam digerogoti waktu, debu yang menempel di bingkai atau barangkali letaknya miring dan sang pemilik malas membetulkannya. Ekspresi yang ada di potret itu masih sama seperti pertama kali dipajang. Senyum yang sama, gaya yang sama, keceriaan yang sama tetap ada disana,&#8221;lanjut ayah saya lagi.</p>
<p>&#8220;Tetapi jika apa yang ada dalam potret keluarga itu tak berubah meski telah melalui rentang waktu puluhan tahun, apakah kenyataannya sama dengan yang terjadi sekarang?. Bisa jadi satu atau lebih anggota keluarga yang berpose disana, sudah ada yang lebih dulu menghadap Illahi, atau bila memang masih lengkap semuanya, anak-anak yang terdapat dalam foto itu sudah beranjak dewasa, menikah, pindah ke tempat lain dan membuat potret keluarga mereka sendiri,&#8221; usai mengungkapkannya ayah menghela nafas panjang.</p>
<p>Beliau menatap saya dalam-dalam.</p>
<p>&#8220;Persoalannya adalah, ketika akan muncul pertanyaan apakah kebahagiaan, kekompakan, kerukunan dan kehangatan yang ditunjukkan pada potret keluarga itu kini hanya bernuansa semu semata?. Maksudnya bisa dimaknai sebagai &#8220;Dahulu memang pernah seperti itu&#8221;. Bila dulu masih bersama, mungkin saja sekarang pasangan suami isteri yang ada di foto itu sudah bercerai dan membentuk keluarga masing-masing. Bila dulu masih utuh, mungkin saja sekarang salah satu anggota keluarga, misalnya si sulung, kabur menghilang entah kemana karena pertikaian dengan orang tuanya, dilain pihak sang adik lebih memilih nongkrong dengan kawan-kawannya di Cafe karena kurang perhatian dan cinta dari sang ibu yang sibuk mengurusi bisnis atau arisannya&#8221;.</p>
<p>Saya menggigit bibir. Keharuan mendadak menyelusup pelan dihati.</p>
<p>&#8220;Papa tidak ingin kebahagiaan dan kehangatan yang ada dalam potret keluarga kita hanya menjadi kenangan masa lalu yang indah saja. Papa ingin apa yang terdapat pada foto tersebut tetap sama dengan kenyataannya, walau mungkin entah disuatu waktu, Papa dan Mama sudah dipanggil menghadap Tuhan. Senyum, kehangatan dan kebahagiaan yang ada di potret keluarga kita, keluargamu, Papa harapkan tetap abadi tidak hanya disana, tapi juga disini, di hati kita masing-masing,&#8221; tutur ayah sembari menunjuk ke arah dadanya.</p>
<p>Mata saya mendadak basah.</p>
<p>Dalam hening malam, kami berpelukan penuh haru.</p>
<p>&#8220;Walau kalian sudah berada jauh dari orang tua sekarang, nak, setiap kali melihat potret kalian di dinding, Papa dan Mama tak pernah lupa mengirim doa kepada kalian, anak-anak dan cucu-cucu, agar tetap memelihara senyum dan kebahagiaan yang kalian miliki di potret itu sampai kapanpun,&#8221; ucap ayah lirih dan terbata-bata.</p>
<p>Malam kian tua. Sembari memeluk erat ayahanda tercinta yang telah memasuki usianya yang ketujuhpuluh tahun, saya ikut mengaminkan dan berjanji dalam hati menerapkan harapan dan doa-doa beliau.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/atgpage.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/atgpage.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/atgpage.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/atgpage.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/atgpage.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/atgpage.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/atgpage.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/atgpage.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/atgpage.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/atgpage.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/atgpage.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/atgpage.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/atgpage.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/atgpage.wordpress.com/100/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=atgpage.wordpress.com&amp;blog=6551511&amp;post=100&amp;subd=atgpage&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://atgpage.wordpress.com/2009/03/16/spirit-kehangatan-dari-potret-keluarga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a780e4610ba539d1a8a6511e95a64f9e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">amriltg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://daengbattala.com/wp-content/uploads/2008/01/fotokeluarga-resize.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">fotokeluarga-resize.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Cinta Yang Menumbuhkan, Cinta Yang Memberdayakan</title>
		<link>http://atgpage.wordpress.com/2009/02/25/cinta-yang-menumbuhkan-cinta-yang-memberdayakan/</link>
		<comments>http://atgpage.wordpress.com/2009/02/25/cinta-yang-menumbuhkan-cinta-yang-memberdayakan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Feb 2009 04:53:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>amriltg</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://atgpage.wordpress.com/?p=98</guid>
		<description><![CDATA[Saya selalu terpukau pada kemampuan ayah merawat tanaman. Pada saat pulang ke Makassar November tahun lalu, saya kaget melihat bibit bunga Anthurium yang beliau bawa saat menengok kami sekeluarga di Cikarang 10 bulan sebelumnya, sudah beranak pinak dan tumbuh subur di beberapa pot yang diletakkan didepan rumah orang tua saya itu (Perumahan Bumi Antang Permai [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=atgpage.wordpress.com&amp;blog=6551511&amp;post=98&amp;subd=atgpage&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="insertedphoto"><img class="alignleft" src="http://images.amriltgobel.multiply.com/image/1/photos/upload/300x300/SaR3hQoKCmoAADrpQds1/bungapapa-2.JPG?et=gABLsJslNMZHDf5xg7KC%2BA&amp;nmid=0" border="0" alt="" /></span>Saya selalu terpukau pada kemampuan ayah merawat tanaman.</p>
<p>Pada saat pulang ke Makassar November tahun lalu, saya kaget melihat bibit bunga Anthurium yang beliau bawa saat menengok kami sekeluarga di Cikarang 10 bulan sebelumnya, sudah beranak pinak dan tumbuh subur di beberapa pot yang diletakkan didepan rumah orang tua saya itu (Perumahan Bumi Antang Permai Makassar).</p>
<p>Beberapa pot tanaman hias terlihat &#8220;mejeng&#8221; secara atraktif memperlihatkan bunga-bunganya yang bermekar indah sementara pot-pot kecil tanaman kaktus berjejer rapi disebuah rak tersendiri yang disediakan khusus dan diletakkan dibagian atas. Sungguh sangat indah untuk dinikmati.</p>
<p>Saya masih ingat betul, saat <a href="http://daengbattala.com/?p=37">kami masih tinggal di Bone-Bone dulu</a>, ayah saya begitu tekun memelihara tanaman disamping rumah dinas yang kami huni. Kebetulan terdapat tanah kosong yang cukup luas dan disana selain tanaman hias juga ketela rambat, pisang serta singkong.</p>
<p>Karena tinggal didaerah yang terpencil, kerapkali gaji ayah saya datang terlambat. Kami lalu memanfaatkan hasil kebun berupa singkong dan ketela rambat itu menjadi makanan kami. Ibu saya yang jago memasak, meramunya begitu dashyat menjadi makanan yang menggugah selera.</p>
<p><span id="more-98"></span> Beberapa kali saya membantu ayah menanam tanaman-tanaman tersebut dikebun. Sensasinya terasa luar biasa saat ayah mengajak saya dan Budi, adik saya, menarik keluar pohon singkong yang sudah besar. Kami bersusah payah mencabutnya hingga ngos-ngosan. Saya bahkan beberapa kali sampai terjatuh. Kami tertawa riang dan akhirnya ayah ikut membantu kami lalu memberikan aba-aba untuk bergerak.</p>
<p><img class="alignright" src="http://images.amriltgobel.multiply.com/image/1/photos/upload/300x300/SaR33QoKCmoAAD6VV4o1/bungapapa-1.JPG?et=qqtAZJrVw%2Ch2wxsvA5UH4w&amp;nmid=0" border="0" alt="" /></p>
<p>Tepat dihitungan ketiga, pohon singkong itu akhirnya benar-benar tercabut dengan sukses. Budi sampai ikut terjengkang sementara saya sempat limbung kekanan sebentar karena beratnya singkong yang kami cabut itu. Kedua adik perempuan kami yang masih kecil-kecil dan menonton dari kejauhan tertawa terpingkal-pingkal melihat kedua kakaknya “kalah” bertarung “melawan” pohon singkong. Mereka berdua lalu bertepuk tangan penuh suka cita didampingi ibu kami yang tersenyum manis.</p>
<p>Rasa puas membuncah didada, apalagi bila menyaksikan singkong hasil panen kami berbuah cukup besar. Keletihan kami sirna oleh kegembiraan atas kerja bersama dalam suasana riang penuh keakraban.</p>
<p>Saya segera membayangkan ibu nanti akan membuat kolak singkong atau sup ubi kegemaran kami. Hidangan sederhana yang justru merupakan sebuah sajian sangat mewah buat kami yang tinggal didesa (ah..sambil menulis ini, mata saya tiba-tiba basah mengingat masakan khas ibunda terkasih yang sungguh nikmat disantap karena dimasak dengan penuh rasa cinta).</p>
<p>Kini, setelah beliau pensiun, selain memancing ikan di kolam khusus pemancingan didekat rumah, ayah tidak pernah melupakan hobinya merawat tanaman.</p>
<p>“Merawat tanaman itu seperti merawat cinta. Diperlukan ketekunan dan ketelatenan setiap hari untuk melakukannya dan ini juga yang ayah dan ibumu lakukan untuk selalu merayakan kasih sayang diantara kami, juga buat kalian, setiap hari” kata ayah suatu waktu.</p>
<p>Saya trenyuh. Sebuah filosofi hidup yang sederhana, dalam dan memikat.</p>
<p>Sambil mengelus daun Anthurium kesayangannya, ayah melanjutkan.”Senang sekali rasanya melihat tanaman yang Papa dan Mamamu rawat ini tumbuh subur. Sama seperti kebanggaan kami, orangtuamu, melihat kalian semua, anak-anak kami, tumbuh besar, berkeluarga, dan memberikan cucu-cucu yang lucu-lucu. Kebahagiaan yang tak dapat dilukiskan dengan kata-kata,” ujar ayah saya dengan mata berbinar.</p>
<p>Saya tiba-tiba teringat tulisan Arvan Pradiansyah dalam bukunya “The 7 Laws of Happines, Tujuh Rahasia Hidup yang Bahagia”(Kaifa,2008) tentang Cinta yang Menumbuhkan. Menurutnya, Seorang ibu yang mencintai anaknya akan merawat sang anak penuh kasih sayang. Ia menjaga anaknya, bahkan bisa terbangun hanya oleh suara paling halus yang digumamkan oleh anaknya. Si ibu mengorbankan dirinya, kesehatannya, waktunya dan seluruh hidupnya, hanya demi pertumbuhan anak yang dicintainya.</p>
<p>Dalam cinta yang menumbuhkan kata Arvan, kebahagiaan tertinggi tidaklah dicapai ketika orang yang kita cintai membalas cinta dan kasih kita. Kebahagiaan tertinggi tercapai melalui pertumbuhan itu sendiri. Bahkan secara lebih esensial lagi, kebahagiaan itu sebenarnya berkaitan dengan tindakan menumbuhkan itu sendiri, terlepas dari bagaimana hasil yang akan kita dapatkan kelak.</p>
<p>Inilah cinta yang sejati, sebuah cinta yang tidak memaksakan kehendak. Cinta yang membebaskan.Cinta yang memampukan,menyadarkan dan memberdayakan. Semuanya itu diawali dengan pemahaman apa yang perlu ditumbuhkan.</p>
<p>Dengan empat orang anak, kedua orang tua saya berusaha untuk memberikan pendidikan yang terbaik untuk kami. Namun sama sekali tidak berusaha mengekang kehendak kami bila bermaksud menempuh jalan yang berbeda. Saya masih ingat sekitar tahun 1988, ketika adik saya Budi menyatakan ingin bekerja saja setelah menamatkan sekolah analis kimia di Makassar. Kebetulan, lulusan SAKMA (Sekolah Analis Kimia Makassar) sangat mudah terserap di lapangan kerja karena ketika itu tenaga analis relatif langka. Ayah saya sebenarnya berkeinginan besar agar Budi melanjutkan kuliah.</p>
<p>Secara demokratis, kami sekeluarga berkumpul membicarakan soal ini. Budi diminta memaparkan argumennya dan diadu dengan pendapat kami semua, termasuk saya sebagai kakak tertua. Kesimpulan akhirnya, kami menyetujui niat Budi (sekarang menjabat sebagai Quality Manager Kalimantan PT Geoservices Coal Laboratory di Balikpapan) untuk bekerja dan tidak melanjutkan kuliah. Meski berat rasanya, saya melihat secercah senyum diwajah ayah. Beliau lalu memeluk pundak ibu saya yang menangis tersedu tak rela melepaskan putra keduanya itu merantau ke Kalimantan Timur.</p>
<p>“Biarkan dia tahu bagaimana resiko atas pilihannya dan bagaimana mengatasinya. Bisa jadi itu yang membuatnya lebih dewasa dan siap menghadapi tantangan kehidupan. Barangkali ini memang yang terbaik buat Budi untuk menempuh takdirnya dan juga terbaik buat kita semua,” kata ayah saya tenang. Dari berbagai lowongan kerja yang diterima Budi waktu itu—sebagai bentuk kompromi dan juga menenangkan hati ibu yang gundah—ia akhirnya menerima lowongan kerja di PT Sucofindo, Sangatta yang menjadi mitra PT Kaltim Prima Coal untuk analisis batubara. Kebetulan, ada adik ayah saya (alm) Ridwan Gobel yang bekerja di PT Kaltim Prima Coal dan bisa mengawasi Budi selama bekerja disana (walau Budi kelak akan tinggal di Mess Karyawan).</p>
<p>Saya melihat keputusan itu sebagai bentuk cinta orang tua kami yang menumbuhkan, yang membebaskan, yang memberdayakan Budi untuk menghargai pilihannya serta siap menempuh segala resiko atas pilihannya itu. Tentu setelah melihat juga sejauh mana kesiapan mental dan spiritual Budi menghadapinya. Saya yakin ada hikmah yang terkandung dibalik semuanya. Usai diskusi malam itu, kami semua memeluk Budi yang akan mempersiapkan keberangkatannya seminggu kemudian.</p>
<p>Saya terharu, kedua orang tua saya tidak memaksakan keinginannya sendiri, menjadikan Budi menjadi orang &#8220;tertentu&#8221; sesuai &#8220;skenarionya&#8221;. Mereka berdua sangat memahami kemampuan dan keunikan Budi untuk menjalani pilihan hidupnya dari hasil diskusi keluarga kami yang intens.</p>
<p>Meskipun begitu, penerapan cinta yang menumbuhkan tidak melulu lewat cara yang halus atau lembut. Penerapan disiplin untuk menjaga &#8220;pertumbuhan&#8221; itu tidak &#8220;melenceng&#8221; dari arah komitmen semula kerapkali dibutuhkan. Seperti yang sudah pernah saya ceritakan <a href="http://daengbattala.com/?p=199">disini, </a>akibat kesibukan saya beraktivitas di kampus, ayah saya mengkhawatirkan kegiatan perkuliahan saya akan terganggu.</p>
<p>Sebelum terjun di kegiatan kemahasiswaan, kedua orang tua saya telah memberi izin dan peluang bagi saya sebesar-besarnya untuk berekspresi dan berkreasi di kampus. Bahkan menginap berhari-hari dikampus sekalipun. &#8220;Ayah percaya padamu bahwa kamu mampu menjaga amanah dan tidak bikin malu orang tua,&#8221; tegas ayah saya suatu ketika.</p>
<p>Sebelumnya, sejak awal saya sudah berkomitmen meski aktifitas non kurikuler saya di kampus meningkat tajam, saya berjanji untuk tidak mengabaikan tugas saya untuk belajar sebagai mahasiswa. Komitmen ini yang dipegang oleh kedua orang tua saya.</p>
<p><a href="http://daengbattala.com/?p=199">Dan ketika ayah saya mendesak saya untuk meminta &#8220;Surat Izin Khusus Orangtua&#8221; </a>saat saya mendapat promosi spesial sebagai Pemimpin Redaksi Surat Kabar Mahasiswa &#8220;Channel 9&#8243; Fakultas Teknik Unhas tahun 1992, saya memaknainya sebagai sebuah bentuk &#8220;cinta yang menumbuhkan&#8221; dari orangtua saya. Bukan sikap paranoid yang berlebihan.</p>
<p>Sebuah ekspresi implisit yang menyatakan, meski saya sudah diberikan kebebasan untuk beraktifitas di kampus, saya tetap mesti disiplin menjaga komitmen saya yang lain, menyelesaikan kuliah dengan sukses dan tepat waktu sesuai harapan kedua orang tua saya.</p>
<p>Ini yang kemudian membuat saya tersadar dan berusaha keras menjaga kepercayaan mereka, sebaik mungkin, bahkan berhasil membuktikan dapat lulus sebagai alumni terbaik Teknik Mesin Unhas periode wisuda September 1994 dengan IPK tertinggi disela-sela segudang kesibukan saya sebagai aktifis mahasiswa.</p>
<p>Usai prosesi wisuda, saya melihat air muka bahagia di wajah kedua orang tua saya di kursi tamu para wisudawan. Sesampai dirumah, saya dipeluk penuh kehangatan dan kebanggaan oleh orang-orang tercinta. Di kedalaman mata ayah dan bunda saya yang berkaca-kaca waktu itu, saya menemukan sebuah telaga jernih dan menenangkan.</p>
<p>Sebuah telaga penuh cinta.</p>
<p>Sebuah telaga yang &#8220;menumbuhkan&#8221;..</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/atgpage.wordpress.com/98/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/atgpage.wordpress.com/98/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/atgpage.wordpress.com/98/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/atgpage.wordpress.com/98/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/atgpage.wordpress.com/98/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/atgpage.wordpress.com/98/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/atgpage.wordpress.com/98/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/atgpage.wordpress.com/98/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/atgpage.wordpress.com/98/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/atgpage.wordpress.com/98/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/atgpage.wordpress.com/98/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/atgpage.wordpress.com/98/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/atgpage.wordpress.com/98/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/atgpage.wordpress.com/98/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=atgpage.wordpress.com&amp;blog=6551511&amp;post=98&amp;subd=atgpage&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://atgpage.wordpress.com/2009/02/25/cinta-yang-menumbuhkan-cinta-yang-memberdayakan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a780e4610ba539d1a8a6511e95a64f9e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">amriltg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://images.amriltgobel.multiply.com/image/1/photos/upload/300x300/SaR3hQoKCmoAADrpQds1/bungapapa-2.JPG?et=gABLsJslNMZHDf5xg7KC%2BA&#38;nmid=0" medium="image" />

		<media:content url="http://images.amriltgobel.multiply.com/image/1/photos/upload/300x300/SaR33QoKCmoAAD6VV4o1/bungapapa-1.JPG?et=qqtAZJrVw%2Ch2wxsvA5UH4w&#38;nmid=0" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Sepasang Telinga, Seluas Samudera</title>
		<link>http://atgpage.wordpress.com/2009/02/12/sepasang-telinga-seluas-samudera/</link>
		<comments>http://atgpage.wordpress.com/2009/02/12/sepasang-telinga-seluas-samudera/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Feb 2009 06:38:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>amriltg</dc:creator>
				<category><![CDATA[keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[bicara]]></category>
		<category><![CDATA[mendengar]]></category>
		<category><![CDATA[samudera]]></category>
		<category><![CDATA[telinga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://atgpage.wordpress.com/?p=80</guid>
		<description><![CDATA[“WHEN you listen, you offer a package of the most valuable healing gifts you can give: compassion, consolation, and forgiveness”. – James Kullander, taken from Gaia Community Website Menjelang tidur malam, usai menceritakan dongeng, saya selalu menyediakan sepasang telinga saya dan membukanya lebar-lebar, untuk mendengarkan anak-anak bercerita. Tentang apa saja. Seremeh apapun itu. Rizky sebagai [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=atgpage.wordpress.com&amp;blog=6551511&amp;post=80&amp;subd=atgpage&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="Apple-style-span" style="border-collapse:separate;color:#000000;font-family:georgia;font-size:12px;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;letter-spacing:normal;line-height:20px;orphans:2;text-indent:0;text-transform:none;white-space:normal;widows:2;word-spacing:0;"></p>
<p style="margin-top:0;"><span class="Apple-style-span" style="font-style:italic;"><span class="insertedphoto"><br class="Apple-interchange-newline" /><img class="alignleft" style="max-width:100%;float:left;display:inline;border-style:none;margin:0 7px 2px 0;padding:4px;" src="http://images.amriltgobel.multiply.com/image/1/photos/upload/300x300/SWMNMwoKCmoAAC7bRr01/Listening.jpg?et=BKljnoc%2CS7yCT2oXZihFNQ&amp;nmid=0" border="0" alt="" /></span></span></p>
<p style="margin-top:0;"><span class="Apple-style-span" style="font-style:italic;">“WHEN you listen, you offer a package of the most valuable healing gifts you can give: compassion, consolation, and forgiveness”.</span><span class="Apple-style-span" style="font-style:italic;"><span class="Apple-style-span" style="font-weight:bold;"><br />
</span></span><span class="Apple-style-span" style="font-style:italic;"><span class="Apple-style-span" style="font-weight:bold;">– James Kullander,<span class="Apple-converted-space"> </span></span><span class="Apple-style-span" style="font-weight:bold;"><a href="http://www.gaia.com/quotes/james_kullander">taken from Gaia Community Website</a></span></span></p>
<p style="margin-top:0;">Menjelang tidur malam, usai menceritakan dongeng, saya selalu menyediakan sepasang telinga saya dan membukanya lebar-lebar, untuk mendengarkan anak-anak bercerita.</p>
<p style="margin-top:0;">Tentang apa saja.</p>
<p style="margin-top:0;">Seremeh apapun itu.</p>
<p style="margin-top:0;">Rizky sebagai anak terbesar akan bercerita mengenai apa yang telah dilakukannya hari itu.</p>
<p style="margin-top:0;">Baik aktifitasnya disekolah maupun bermain bersama kawan-kawannya di dekat rumah. Ia menceritakannya lebih tenang, runtut dan terperinci. Namun ia kerap terusik ketika sang adik yang usil menganggunya ketika sedang bertutur.</p>
<p style="margin-top:0;">Sementara si Bungsu Alya, biasanya bercerita lebih antusias, spontan, menggemaskan dengan gestur tubuh yang mendukung kisah-kisahnya, namun tidak sistematis. Ceritanya melompat-lompat, kadang membuat saya mesti lebih tekun dan serius menyikmaknya. Tapi tetap saja menarik dan saya sangat menikmatinya.</p>
<p style="margin-top:0;">Wajahnya yang lucu membuat saya kerap tertawa terpingkal-pingkal melihatnya ketika ia bercerita. Kadang-kadang saat sedang asyik bertutur, tiba-tiba ia tertawa sendiri sambil menutup mulutnya menahan rasa geli tak tertahankan. Dan kami semua jadi bingung apa sebenarnya yang sedang ditertawakan serta apakah ada yang kami lewatkan dari ceritanya.</p>
<p style="margin-top:0;">Menyenangkan rasanya mendengarkan kedua buah hati saya itu mengekspresikan kegembiraan, keresahan, kecemasan, harapan dan juga impian-impiannya, kepada saya, ayahnya, secara terbuka dan tanpa beban. Keharuan menyesak dada saat melihat binar kepuasan dimata jernih mereka usai menyajikan sepotong cerita pada saya.</p>
<p style="margin-top:0;">Se-”tidak penting” apapun itu.</p>
<p style="margin-top:0;"><span id="more-80"></span></p>
<p style="margin-top:0;">Bagi saya, dengan menjadi pendengar terbaik buat mereka, setidaknya saya bisa tahu apa yang terpendam dalam hati, memahami maksudnya, dan tidak hanya sekedar memberikan jawaban layaknya sebuah acara kuis. Saya berusaha membangun proses dialog diantaranya. Meski kadang-kadang “tidak nyambung” karena tentunya jangkauan pemikiran anak-anak saya itu masih terbatas, tapi bagi saya yang paling penting adalah, saya bisa meningkatkan kualitas hubungan personal dan emosional saya dengan Rizky dan Alya. Membuat mereka merasa berharga, nyaman dan didengar oleh orangtua mereka. Itu sebuah investasi besar buat hati.</p>
<p style="margin-top:0;">Ketika anak-anak sudah tidur, saya dan istri saling ber-curhat ria. Saya bercerita, dia mendengarkan dan sebaliknya, saya mendengarkan dia bercerita. Ada banyak hal yang kami perbincangan, mulai dari soal rencana pendidikan anak-anak kami, bisnis MLM yang digeluti istri saya yang semakin banyak saingan di Cikarang, harga-harga bahan pokok yang kian melonjak walau harga BBM turun, soal pengemudi bis yang saya tumpangi tadi beraksi ugal-ugalan di jalan atau soal menu bekal makan siang apa yang ingin saya bawa dari rumah besok pagi ke kantor. Kami saling mengungkapkan isi hati dan berbagi. Sebuah upaya strategis untuk tetap memelihara cinta dan komunikasi yang intens diantara kami.</p>
<p style="margin-top:0;">Sewaktu masih sekolah dan tinggal bersama orang tua dulu, kami acapkali berkomunikasi secara intens dimeja makan. Kegiatan ini sering saya bersama ketiga adik serta kedua orang tua kami lakukan usai makan malam dimana seluruh anggota keluarga berpotensi besar untuk kumpul bareng. Yang satu bercerita, yang lain mendengarkan. Rasanya sangat melegakan sudah menuangkan segala uneg-uneg, kekesalan, kegembiraan dan harapan bersama orang-orang tercinta yang mendengarkannya dengan penuh minat. Sayang, saya kerap melewatkan “tradisi” ini setelah jadi mahasiswa karena lebih sering nongkrong dan menginap di kampus.</p>
<p style="margin-top:0;">Peristiwa yang terjadi beberapa tahun silam<span class="Apple-converted-space"> </span><a href="http://daengbattala.com/?p=133">ketika pacar tercinta memutuskan hubungan secara sepihak dengan saya,</a><span class="Apple-converted-space"> </span>masih membekas dihati. Ketika itu, saya ber curhat ria kepada seorang kawan yang secara sukarela menyediakan kedua kupingnya sebagai “tempat sampah” bagi segala celotehan dan kekesalan saya pada mantan pacar. Ia memang seorang pendengar yang baik dan sabar. Ia tak mengucapkan sepatah kata apapun menanggapi cerita saya, bahkan ketika curhat saya selesai. Ia hanya tersenyum manis dan berkata,”sudah?”. Saya mengangguk pelan. Dan, sungguh menakjubkan, setelah mengungkapkan semuanya mendadak hati saya menjadi lebih lapang dan lega. Walau masih ada sedikit rasa perih tapi setidaknya sudah lebih baik dari sebelumnya.</p>
<p style="margin-top:0;">Terasa benar makna “upaya mendengarkan” itu sebagai salah satu bagian dari usaha “pemulihan” seperti ungkapan James Kullander diatas. Kawan saya tadi lalu memberikan sejumlah nasehat penting bagaimana cara “menata hati” setelah sebuah “cinta membunuh”-mu. Tajam dan memiliki analisis tinggi. Sebuah indikasi bahwa dia benar-benar memahami dan menyimak curhat cengeng saya itu.</p>
<p style="margin-top:0;">Kebanyakan orang–mungkin termasuk saya dan anda–masih menganggap bahwa keterampilan berbicara jauh lebih penting dari pada kemampuan mendengarkan. Seseorang cenderung dianggap sebagai orang hebat ketika ia mampu menampilkan retorika yang bagus saat berbicara, ia dianggap tahu tentang banyak hal. Namun, ketika ia tak mampu menjadi pendengar yang baik pula, maka kesuksesan atas keterampilan berbicaranya tak akan berlangsung lama.</p>
<p style="margin-top:0;">Tuhan telah menciptakan dua telinga selalu dalam keadaan terbuka dan hanya satu mulut yang bisa terbuka dan mungkin lebih sering terkatup. Sebuah isyarat yang bisa ditangkap sebagai seseorang mesti memiliki kemampuan mendengarkan dua kali lebih banyak daripada kemampuannya berbicara.</p>
<p style="margin-top:0;">Kendala yang kerap muncul ketika seseorang tak dapat menjadi pendengar yang baik adalah, kita sering merasa “sudah tahu jawabannya”–berdasarkan pengalaman-pengalaman serupa dimasa lalu–sehingga membuat kemampuan mendengarkan kita menurun. Karena sering mengalami problem yang sama maka ketika kita mendengar hal serupa diungkapkan, kita merasa sudah tahu seluk beluk persoalan itu. Padahal mungkin saja, penyelesaiannya beda sesuai situasi terkini dan butuh analisa lebih mendalam. Ini sebuah ekses buruk dari sebuah pengalaman.</p>
<p style="margin-top:0;">Hal lain adalah, kita senantiasa tak dapat menahan hasrat diri untuk berbicara. Ini butuh sebuah tingkat “perjuangan” kesabaran tinggi. Saya seringkali mengalami hal seperti ini. Saat mendengarkan, konsentrasi saya mendadak pecah dan justru bersiap-siap untuk berbicara menanggapi.</p>
<p style="margin-top:0;">Upaya menumbuhkan rasa keingintahuan menjadi salah satu kunci agar kita bisa menjadi seorang pendengar yang baik. Acapkali kita mendapati lawan bicara kita mengungkapkan hal-hal “kurang penting” dan kurang menarik untuk diperbincangkan. Jikalau memang topiknya tidak membuat anda tertarik, cobalah tertarik dulu pada pembicaranya. Setiap orang dikaruniai Tuhan pribadi yang unik dan beda. Siapa tahu pada pembicaranya anda menemukan keunikan tersendiri dan perlahan-lahan anda bisa dapat menumbuhkan keingintahuan anda atas apa yang dibicarakan. Bila memang sudah “mentok” dan anda memang betul-betul “be-te” mendengarkan, bersabarlah, paling tidak, komunikasi yang anda lakukan meningkatkan kualitas hubungan dengan lawan bicara anda. Selalu ada hikmah<span class="Apple-converted-space"> </span><span class="Apple-style-span" style="font-style:italic;">kok<span class="Apple-converted-space"> </span></span>dibalik setiap peristiwa.</p>
<p style="margin-top:0;">Pada banyak kasus, hambatan utama seseorang tak bisa menjadi pendengar yang baik adalah justru adanya keinginan besar untuk minta didengarkan juga yang serta merta memicu keinginan untuk berbicara. Cukup susah memang mengendalikan keinginan untuk didengarkan, ingin dimengerti dan ingin dipahami ini.</p>
<p style="margin-top:0;">Saya ingin memberikan secuil pembicaraan singkat saya dengan seorang ibu diatas bis kemarin pagi yang kemudian menginspirasi saya menulis artikel ini. Ibu yang berusia setengah baya itu terlihat menggerutu setelah membaca tulisan di tabloid gossip yang dipegangnya.</p>
<p style="margin-top:0;">“Aduuhh…ini artis “anu” kok cere’ lagi sih?. Masa’ alasannya itu melulu, kurang komunikasilah atau kurang harmonislah,” ujar ibu itu bergumam pada dirinya sendiri sambil menggeleng-gelengkan kepala penuh penyesalan.</p>
<p style="margin-top:0;">Saya yang duduk disebelahnya iseng bertanya,”Emangnya menurut ibu apa sih kira-kira masalah inti yang membuat artis-artis itu cere’?”.</p>
<p style="margin-top:0;">Ibu itu melirik saya tajam. Barangkali sedikit kurang nyaman saya usil bertanya demikian.</p>
<p style="margin-top:0;">“Masing-masing dari mereka hanya mau didengarkan, mau dimengerti, mau dipahami dan tak ada satupun berusaha untuk mau mendengar, mau memahami dan mau mengerti. Itu saja masalahnya. Yang paling penting, kalau komunikasi kedua pihak bisa berjalan baik, tidak ada persoalan. Saya sudah nikah dengan suami saya 20 tahun tidak ada hambatan apa-apa, yang penting kita saling terbuka dan percaya satu sama lain,” sahut ibu itu bersemangat.</p>
<p style="margin-top:0;">Saya manggut-manggut.</p>
<p style="margin-top:0;">Sudah selayaknya, menjelang Pemilu Legislatif dan Pilpres 2009 tahun ini, para calon-calon pemimpin kita mesti lebih sering membuka telinganya lebar-lebar untuk mendengarkan aspirasi rakyat serta tidak sekedar hanya tebar pesona dan wacana belaka demi meraih simpati yang lebih besar. Rakyat juga perlu dimengerti dan didengar, terlebih ketika beban hidup yang kian menghimpit sekarang pasca krisis finansial global. Saya banyak berharap agar calon-calon pemimpin masa depan di negeri ini tidak hanya dibekali kemampuan retorika dan intelektual yang memadai namun juga kemampuan mendengar yang baik.</p>
<p style="margin-top:0;">Jadi sudah bersiapkah anda, menyiapkan kedua telinga, seluas samudera, untuk mendengarkan?</p>
<p style="margin-top:0;"><a href="http://www.inclusive-solutions.com/images/Listening.jpg">Sumber Gambar</a></p>
<p></span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/atgpage.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/atgpage.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/atgpage.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/atgpage.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/atgpage.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/atgpage.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/atgpage.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/atgpage.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/atgpage.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/atgpage.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/atgpage.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/atgpage.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/atgpage.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/atgpage.wordpress.com/80/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=atgpage.wordpress.com&amp;blog=6551511&amp;post=80&amp;subd=atgpage&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://atgpage.wordpress.com/2009/02/12/sepasang-telinga-seluas-samudera/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a780e4610ba539d1a8a6511e95a64f9e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">amriltg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://images.amriltgobel.multiply.com/image/1/photos/upload/300x300/SWMNMwoKCmoAAC7bRr01/Listening.jpg?et=BKljnoc%2CS7yCT2oXZihFNQ&#38;nmid=0" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>&#8220;Biter Hamen&#8221; Dan Ketangguhan Mengatasi Persoalan</title>
		<link>http://atgpage.wordpress.com/2009/02/08/biter-hamen-dan-ketangguhan-mengatasi-persoalan/</link>
		<comments>http://atgpage.wordpress.com/2009/02/08/biter-hamen-dan-ketangguhan-mengatasi-persoalan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Feb 2009 05:35:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>amriltg</dc:creator>
				<category><![CDATA[renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://atgpage.wordpress.com/?p=64</guid>
		<description><![CDATA[ENTAH ada dimana akal sehat Ervin Lupoe berada, ketika ia memutuskan membunuh kelima anak, istri dan akhirnya dirinya sendiri hari Selasa (27/1) waktu Amerika Serikat. Ervin menembak seluruh anggota keluarganya karena khawatir pada masa depan suram setelah kehilangan pekerjaan. Anak-anaknya ikut dibunuh karena dia dan istrinya, Ana, tidak yakin pada masa depan mereka bila diasuh [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=atgpage.wordpress.com&amp;blog=6551511&amp;post=64&amp;subd=atgpage&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="insertedphoto"><img class="alignright" src="http://images.amriltgobel.multiply.com/image/1/photos/upload/300x300/SY89TgoKCmoAADjrSAE1/pemandangan.JPG?et=w2q%2CzwGFMN5W62tPk%2Bt2Pw&amp;nmid=0" border="0" alt="" /></span>ENTAH ada dimana akal sehat Ervin Lupoe berada, <a href="http://www.surabayapost.co.id/?mnu=berita&amp;act=view&amp;id=23f35020df135821bc9a1c51e3900047&amp;jenis=c4ca4238a0b923820dcc509a6f75849b&amp;PHPSESSID=4887485f63bfbf0f0a20ca2d5c64d34c">ketika ia memutuskan membunuh kelima anak, istri dan akhirnya dirinya sendiri </a>hari Selasa (27/1) waktu Amerika Serikat. Ervin menembak seluruh anggota keluarganya karena khawatir pada masa depan suram setelah kehilangan pekerjaan. Anak-anaknya ikut dibunuh karena dia dan istrinya, Ana, tidak yakin pada masa depan mereka bila diasuh orang lain. Alasan bunuh diri ini membuat Los Angeles dan sekitarnya gempar karena ditulis tangan oleh Ervin Lupoe dan dikirimkan via faks ke Stasiun KABC-TV (isi suratnya bisa baca<a href="http://www.zimbio.com/Ervin+Lupoe/articles/2/Full+Text+Ervin+Lupoe+Suicide+Letter+Sent"> disini</a>)</p>
<p>Di awal suratnya ke stasiun TV KABC ia menulis, &#8220;Nama saya Ervin Lupoe, istri saya, Ana Lupoe, putri kami Britney 8 tahun, putri kembar kami Jaszmin-Jassely, dan putra kembar kami, Benjamin dan Christian, 2 tahun 4 bulan&#8221;.Pembukaan surat pria berusia 40 tahun itu sungguh menyiratkan ia adalah lelaki<a href="http://www.zimbio.com/Ervin+Lupoe/articles/3/Laid+Off+Medical+Technician+Kills+Wife+5+Kids"> yang berbahagia dan memiliki segalanya</a>. <a href="http://www.facebook.com/group.php?sid=b03653853c37fd777ddf12169c2fd105&amp;gid=120948100645">Lihatlah foto anak-anak Ervin yang dipajangnya di Facebook </a><a href="http://www.facebook.com/group.php?sid=b03653853c37fd777ddf12169c2fd105&amp;gid=120948100645">.</a><a href="http://www.facebook.com/group.php?sid=b03653853c37fd777ddf12169c2fd105&amp;gid=120948100645"> </a></p>
<p>Setelah menembak mati istrinya, putri sulungnya, putri kembarnya lalu putra kembarnya, masih dengan revolver di tangan, di pagi yang naas itu, Ervin sempat menelepon 911 pukul 08.22 dan mengaku menemukan istri dan kelima anaknya telah tewas dirumah. Empat menit kemudian, polisi tiba dirumah Ervin di Wilmington tak jauh dari Pelabuhan Los Angeles. Jasad Ervin bersama ketiga putrinya ditemukan diruang tidur utama lantai atas sementara mayat istri dan putra kembarnya di kamar tidur belakang. Tragis dan sungguh membuat saya seketika merinding membaca beritanya<span class="Apple-style-span" style="font-size:16px;"><br />
<span id="more-64"></span></span></p>
<p>&#8220;Badai&#8221; krisis ekonomi dunia yang menghantam begitu dashyat di Amerika berdampak pada hilangnya mata pencaharian banyak orang disana. Tercatat selama Desember tahun lalu jumlah karyawan yang diberhentikan sekitar 226 ribu dan lebih 3,6 juta orang disana sepanjang tahun 2008 berubah status jadi penganggur. Kejadian itu menimpa pasangan Ervin/Ana yang keduanya tercatat sebagai karyawan pada Rumah Sakit Kiasser Permanente. Pasangan ini dipecat karena dianggap memalsukan penghasilan untuk mendapatkan perawatan anak di lembaga sosial. &#8220;Menyadari kami tak lagi punya pekerjaan, dengan lima anak, kami tak tahu lagi harus kemana. <em>So, here we are</em>,&#8221; tulis Ervin putus asa, seperti yang saya kutip dari Majalah Tempo edisi 2-8 Februari 2009.</p>
<p>&#8220;Hadapi persoalanmu ini dengan Biter Hamen,”kata seorang kawan saat menghibur saya yang tengah gusar ketika saya mesti <a href="http://daengbattala.com/?p=209">siap menghadap fakta untuk di PHK dari PT Timori pasca kerusuhan 1998</a></p>
<p class="MsoNormal">“Biter Hamen? Apa itu?,” Tanya saya keheranan. Apakah ini sebuah istilah dalam bahasa jerman atau semacamnya?, saya membatin.</p>
<p class="MsoNormal">Kawan saya tersenyum samar.</p>
<p class="MsoNormal">“Itu singkatan dari Bibir Tersenyum, Hati Menjerit,” sahutnya spontan</p>
<p class="MsoNormal">Tawa saya lantas meledak, kawan saya ini betul-betul memiliki selera humor yang lumayan.</p>
<p class="MsoNormal">“Eit, jangan ketawa dulu. Saya serius. Senyum adalah salah satu cara terbaik mengatasi masalah hati. Senyum, bisa menjadi obat. Menjadi sugesti yang datang dari sendiri untuk mengobati rasa perih, “ kata kawan saya sembari memasang tampang serius.</p>
<p class="MsoNormal">Saya mendelik kebingungan.</p>
<p class="MsoNormal">“Senyum”, kata dia lagi,”bagi sementara orang boleh jadi menjadi semacam “masker”atau “topeng” dari rasa luka dihati. Sebentuk apologi. Tapi disadari atau tidak, dengan menyunggingkan senyum—seterpaksa apapun itu—akan memberikan efek “menyembuhkan” , baik secara perlahan-lahan maupun dramatis bagi sebuah jiwa yang terkoyak. Untuk memulihkan, memang butuh waktu, tergantung sejauh mana yang bersangkutan mampu menanggulangi nya antara lain dengan cara lebih ikhlas merelakan kehilangan dan pasrah kepada Yang Maha Kuasa atas cobaan yang baru dialami serta melapangkan hati untuk siap menghadapi tantangan baru dimasa depan”.</p>
<p class="MsoNormal">“Tapi, bukankah itu berarti mengingkari kata hati. Mana bisa saya menebar senyum kemana-mana kalau sedang sakit hati?”, sanggah saya sengit.</p>
<p class="MsoNormal">Kawan saya lagi-lagi tersenyum.</p>
<p class="MsoNormal">“Pernahkah terlintas dalam benakmu, bahwa hidup ini sesungguhnya begitu indah?. Coba perhatikan hal-hal sederhana saja disekelilingmu. Bintang-bintang yang berkelip terang dibentang lazuardi langit , senja yang memukau dibatas cakrawala ketika matahari tenggelam, atau kebahagiaan saat bercengkrama bersama keluarga, pernahkah kamu merasakan setiap keindahan dibaliknya?. Dengan memusatkan segala pikiran dan tubuh kita pada subyek yang saya katakan tadi, akan menghasilkan sebuah kekaguman yang luar biasa. Terlebih bila kekaguman tersebut dibarengi pula pada ketakjuban pada sang sumber segala keindahan, Tuhan Yang Maha Kuasa, yang tentu lebih indah dari segala yang telah diciptakannya. Ini sebuah cara pandang bermuatan spiritual<span> </span>yang seyogyanya mengembalikan spirit jiwa kita untuk lebih tangguh menghdapi persoalan kehidupan dan lebih bersyukur atas nikmat hidup yang kita miliki, hingga detik ini”.</p>
<p class="MsoNormal">Saya menggigit bibir. Banyak Tanya merajai benak saya ketika itu.</p>
<p class="MsoNormal">“ Karena mereka memiliki jiwa yang belum terkontaminasi hal-hal yang bersifat materi, anak-anak senantiasa memaknai segala sesuatu yang diamatinya secara lebih indah dan menakjubkan. Mereka sangat dekat dengan kesejatian diri. Beda dengan kita yang sudah dewasa, yang kerapkali lebih dekat pada hal-hal yang bersifat materi. Hidup yang indah selalu diidentikkan dengan memiliki uang yang banyak. Kita jadi kehilangan kemampuan melihat sesuatu sebagaimana adanya karena kita tak memiliki cara pandang bermuatan spiritual untuk memandang lebih jernih tentang keindahan hidup ini”</p>
<p class="MsoNormal">Saya manggut-manggut.</p>
<p class="MsoNormal">“Jadi kawanku, sesungguhnya, tak ada alasan buat kamu dan juga saya untuk tidak<span> </span>selalu tersenyum, karena hidup ini indah. Jangan menjadikan masalah yang kamu hadapi ini sebagai beban. Bersyukurlah, karena dengan adanya masalah itu juga menunjukkan bahwa kita benar-benar hidup. Justru ini adalah sebuah peluang dan tantangan buatmu, bagaimana cara mencari solusi kreatif<span> </span>untuk keluar dari persoalan. Kamu akan mengerahkan segala daya dan kemampuan yang kamu miliki untuk menyelesaikannya.<span> </span>Bila kamu menghayati semua proses itu, maka saya yakin, kamu akan menemukan serpih-serpih keindahan dan hikmah dibaliknya. Kamu bisa jadi lebih tangguh serta kreatif<span> </span>dan tentu menemukan “mutiara” berharga berupa pengalaman menyelesaikan masalah jika kelak kamu menghadapi persoalan serupa dimasa datang. Jadi Biter Hamen sajalah,” kata kawan saya menutup kalimat filosofisnya seraya menepuk hangat pundak saya.</p>
<p class="MsoNormal">Beberapa tahun setelah percakapan itu, saya menonton<a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Life_Is_Beautiful"> film “Life is Beautiful” (La Vita est Bella, 1997) yang dibintangi oleh Roberto Benigni dan Nicoletta Braschi. </a>Film yang memenangkan 3 Penghargaan Academy Award dan 56 penghargaan internasional itu seketika membuat saya terkenang kembali uraian filosofis kawan saya.</p>
<p class="MsoNormal">Alkisah, film yang mengambil setting awal Perang Dunia II di Italia ini menceritakan pengalaman seorang ayah bernama Guido Orifice (Roberto Benigni) yang selalu memaknai hidupnya dengan penuh keceriaan. Ia selalu menari dan bernyanyi riang tak peduli seberat apapun masalah yang dihadapinya.</p>
<p class="MsoNormal">Hal ini menjadi ironi karena apa yang tengah dihadapi olehnya dan keluarganya ketika itu sangat berat dan tak mudah. Nasib naas menimpa Guido dan keluarganya. Mereka ditangkap oleh tentara Nazi Jerman dan dibawa ke kamp konsentrasi yang terkenal kekejamannya. Guido sadar apa yang tengah dihadapinya ketika itu dan ia tak ingin terbawa kesedihan.</p>
<p class="MsoNormal">Pada Joshua,<span> </span>putra tersayangnya yang baru berusia 6 tahun, Guido mengarang cerita bahwa apa yang sedang mereka lakukan ketika itu adalah sebuah bagian dari permainan. Siapapun yang ada dalam kamp konsentrasi itu adalah para pemainnya.</p>
<p class="MsoNormal">Dengan kalimat getir namun penuh optimisme, Guido memaparkan bahwa mereka harus mengikuti<span> </span>segala peraturan di kamp konsentrasi itu untuk memenangkan hadiah pertama yaitu sebuah tank. Hadiah itu didapatkan setelah mengumpulkan 1000 poin. Jika Joshua menangis, misalnya karena lapar atau ingin dekat sang ibu, maka seketika poinnya hilang dan akan diberikan kepada yang lain.</p>
<p class="MsoNormal">Ketika film berakhir , air mata saya perlahan menetes saat menyaksikan Guido akhirnya tewas tertembak, Sang anak dan istrinya selamat. Disela-sela kemenangan tentara Amerika atas Tentara Jerman, perasaan haru saya seketika membuncah saat melihat Joshua, akhirnya mendapat “hadiah atas permainan” yang dilakoninya, berupa naik tank tentara Amerika.</p>
<p class="MsoNormal">Film itu telah menjelma menjadi sebuah spirit dan motivasi dashyat buat saya untuk lebih menghargai hidup ini dan menikmati segenap warna-warni yang meliputinya, dengan penuh rasa syukur. Mengubah paradigma atau cara pandang kita memang tak mudah disela-sela kepahitan hidup yang kian berat menimpa pasca krisis global yang kini mulai menimpa Negara kita.</p>
<p class="MsoNormal">Saya ingin mengutip tulisan menarik dari Thich Nhat Hanh dalam bukunya <span class="Apple-style-span" style="font-style:italic;">“The Miracle pf Mindfulness” (1975).</span> Ia berkata, ada 3 cara yang bisa kita lakukan agar bisa menikmati setiap momen. Pertama adalah Bernafas. Pengendalian tubuh dan pikiran<span> </span>tergantung dari sejauh mana kita menguasai nafas kita. Saat kepala kita penuh dengan pikiran, bernafaslah dengan segala kesadaran dengan tubuh kita.Hal ini akan membuat pikiran akan menyaru dengan tubuh kita. Dengan bernafas yang benar, maka kita akan selalu mampu merevitalisasi diri kita.</p>
<p class="MsoNormal">Kedua adalah Mengamati Diri. Jangan pernah membiarkan setiap pikiran yang masuk begitu saja “nyelonong” kedalam otak kita, tanpa melakukan identifikasi kritis, bagaimana dan apa bentik pikiran itu. Setiap bentuk pikiran yang muncul hendaknya selalu diamati, jangan sampai itu akan membuat kita justru bertindak<span> </span>kontraproduktif. Kalau anda sedang cemburu misalnya, maka seketika anda akan berkata,”Suatu perasaan cemburu baru saja muncul dalam hatiku”. Setiap tindakan yang kita lakukan senantiasa berada dalam tataran rasa sadar, bahwa itu akan menjadi hal paling penting bagi kita.</p>
<p class="MsoNormal">Ketiga adalah Tersenyum. Bagi Nhat Hanh, tersenyum adalah cara menarik untuk mempertahankan sikap sadar.Tersenyumlah dalam setiap kondisi apapun, mulai dari bangun tidur, beraktivitas sepanjang hari hingga kemudian tidur kembali.Senyum akan membuat kita tak serta merta larut dalam emosi bahkan justru akan senantiasa mengingatkan kita tentang momen terindah yang kita sedang atau pernah lewati.</p>
<p class="MsoNormal">Krisis ekonomi global sudah mulai terasa dampaknya dinegara kita, tak pelak, akan menimbulkan sejumlah persoalan-persoalan yang membebani hati. Gelombang PHK—seperti yang dialami Ervin Lupoe dan istrinya serta ribuan orang di Amerika—telah terjadi pula di Indonesia. Bukan hal yang mustahil tragedi yang dialami Ervin juga dapat terjadi di Negara kita. Terlebih ketika seseorang, yang dilanda persoalan berat yang bertubi-tubi datang menghantam, namun tak sanggup secara sadar mengendalikan diri untuk tetap berfikir secara jernih menyelesaikannya.</p>
<p class="MsoNormal">Dengan melihat bahwa masalah yang datang adalah bagian dari kesempatan berharga untuk tumbuh, maka ia dapat menjadikan itu sebagai media belajar untuk lebih tangguh serta kreatif mencari solusi terbaik sebagai jalan keluar dari masalah tadi. Abraham Lincoln, mantan Presiden Amerika ke-16 pernah berkata &#8220;Sukses berjalan dari satu kegagalan ke kegagalan yang lain, tanpa kita kehilangan semangat&#8221;.</p>
<p class="MsoNormal">Keberhasilan haruslah diupayakan. Kita mesti memandang bahwa urusan hasil adalah urusan Tuhan. Yang dapat kita lakukan sebagai hambaNya adalah berusaha semaksimal mungkin dan sekuat tenaga. Segala usaha berada dibawah kontrol kita, sedangkan soal hasil sepenuhnya berada dibawah kekuasaan Tuhan. Ini sejalan dengan Firman Allah SWT dalam QS 53:39 : <span class="Apple-style-span" style="font-style:italic;">&#8220;Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang diusahakannya&#8221;.</span></p>
<p class="MsoNormal">Seseorang kerapkali merasa stress dan tertekan bila terlalu berorientasi pada hasil sehingga ia sama sekali tidak menikmati setiap proses dan usaha untuk mencapainya. Padahal, soal hasil itu, berada diluar jangkauan kontrol kita. Orang yang gagal sesungguhnya bukanlah orang yang pernah mengalami kegagalan namun orang-orang yang kalah ketika menempuh kegagalan itu sendiri. Keberhasilan terletak pada kerja dan usaha, bukan pada perolehan. Ini bisa menjadi sebuah cara pandang baru kita dalam melakukan dan memaknai setiap ikhtiar.</p>
<p class="MsoNormal">Maka dari itu, tersenyumlah.</p>
<p class="MsoNormal">Karena hidup ini begitu indah bila kita melihatnya dari jendela hati yang lebih jernih.</p>
<p class="MsoNormal"><strong>Catatan:</strong></p>
<p class="MsoNormal">Tulisan ini juga dimuat di <a href="http://public.kompasiana.com/2009/02/09/biter-hamen-dan-ketangguhan-menghadapi-persoalan/" target="_blank">Kompasiana</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/atgpage.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/atgpage.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/atgpage.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/atgpage.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/atgpage.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/atgpage.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/atgpage.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/atgpage.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/atgpage.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/atgpage.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/atgpage.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/atgpage.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/atgpage.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/atgpage.wordpress.com/64/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=atgpage.wordpress.com&amp;blog=6551511&amp;post=64&amp;subd=atgpage&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://atgpage.wordpress.com/2009/02/08/biter-hamen-dan-ketangguhan-mengatasi-persoalan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a780e4610ba539d1a8a6511e95a64f9e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">amriltg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://images.amriltgobel.multiply.com/image/1/photos/upload/300x300/SY89TgoKCmoAADjrSAE1/pemandangan.JPG?et=w2q%2CzwGFMN5W62tPk%2Bt2Pw&#38;nmid=0" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>&#8220;Mind Eye&#8221; Dan Kesigapan Mengantisipasi Kemungkinan</title>
		<link>http://atgpage.wordpress.com/2009/02/07/mind-eye-dan-kesigapan-mengantisipasi-kemungkinan/</link>
		<comments>http://atgpage.wordpress.com/2009/02/07/mind-eye-dan-kesigapan-mengantisipasi-kemungkinan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Feb 2009 05:29:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>amriltg</dc:creator>
				<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[kemungkinan]]></category>
		<category><![CDATA[mind eye]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://atgpage.wordpress.com/?p=61</guid>
		<description><![CDATA[“Your Mind’s Eye is your “mental television”, the personal channel you can tune in to see what could happen if the unexpected occurs. When you use your Mind’s Eye, you “look” at how situation might turn out, using a “questioning attitude” : to ask “WHAT could happen IF the unexpected occurs?” and HOW can this [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=atgpage.wordpress.com&amp;blog=6551511&amp;post=61&amp;subd=atgpage&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="Apple-style-span" style="font-style:italic;"><span class="insertedphoto"><img class="alignright" src="http://images.amriltgobel.multiply.com/image/1/photos/upload/300x300/SYR7-AoKCmoAACx9TVc1/SciMind-Eye.jpg?et=7iLtOlK0xm8p9zACDUqXQA&amp;nmid=0" border="0" alt="" width="256" height="256" /></span>“Your Mind’s Eye is your “mental television”, the personal channel you can tune in to see what could happen if the unexpected occurs. When you use your Mind’s Eye, you “look” at how situation might turn out, using a “questioning attitude” : to ask “WHAT could happen IF the unexpected occurs?” and HOW can this job be done more safely?” </span></p>
<p><span class="Apple-style-span" style="font-weight:bold;">&#8211;Tutorial Training STOP (Safety Training Observation Program) for Supervision (copyright by Dupont, 2004) </span></p>
<p>Minggu lalu (Jum’at 23/1) , saya dan sejumlah kawan menjadi peserta pelatihan sehari STOP (Safety Training Observation Program) for Supervision yang dilaksanakan secara internal dikantor tempat saya bekerja oleh Divisi Health, Safety &amp; Enviroment. Modul pelatihan diambil dari materi pengantar STOP for Supervision yang dibuat oleh Du Pont. Suasana pelatihan berlangsung lebih interaktif karena disajikan pula video pengantar tiap membahas sebuah bab dari modul.</p>
<p>Pelatihan yang saya ikuti ini memberikan begitu banyak pemahaman dan wawasan baru tentang bagaimana usaha yang dapat kita lakukan untuk tetap memelihara spirit “Safety is Yours” yaitu tanggung jawab keselamatan adalah berada pada diri kita masing-masing. Pak Erick Wattimena, HSE Manager PT. NOV Indonesia menyampaikan materinya secara santai, komunikatif dan memikat disertai contoh-contoh aplikatif di lapangan.</p>
<p>Saya tertarik dengan uraian soal “Mind Eye” seperti yang diutarakan pada awal artikel ini. Kemampuan deteksi untuk “membaca” tanda-tanda awal bahaya bila sesuatu yang tidak diharapkan terjadi, secara sensitif melalui “mata fikiran”, perlu senantiasa diterapkan dalam kehidupan keseharian dan tidak sebatas pada aktifitas dikantor atau di pabrik saja.</p>
<p>Kemampuan ini dibangun dengan senantiasa bertanya pada diri sendiri, dampak apa yang timbul jika sesuatu yang tak diharapkan terjadi? Bagaimana pekerjaan dapat dilakukan secara lebih aman dan selamat dengan antisipasi lebih dini atas kemungkinan buruk yang dapat terjadi?</p>
<p>Sebenarnya ini bukanlah sebentuk sikap paranoid, namun lebih pada sebuah sikap waspada pada kemungkinan terburuk dengan membaca gejala-gejala tak wajar yang ada disekeliling kita. Kondisi lantai yang licin dan basah misalnya, merupakan sebuah gejala awal yang berpotensi menyebabkan seseorang celaka karena tergelincir. Dan untuk itu dibutuhkan upaya preventif untuk menghindari kecelakaan fatal itu.</p>
<p><span id="more-61"></span></p>
<p>Sekitar 3 Minggu lalu, saya sempat mengalami kejadian yang cukup membuat jantung berdebar. Bis Tunggal Daya yang saya tumpangi dari Bekasi Timur menuju kantor saya di Cilandak mengalami masalah pada sistem pengeremannya. Sang supir nampaknya memiliki kemampuan &#8220;mind eye&#8221; yang cukup bagus.</p>
<p>Diatas tol JORR Cikunir mendekati daerah Pondok Gede, ia menghentikan bisnya lalu turun dan memeriksa bersama sang kondektur. Beberapa penumpang terlihat kesal karena dengan adanya kejadian tersebut, berakibat banyak diantara mereka yang terpaksa terlambat masuk kantor. Umpatan kesal dan gerutuan terdengar riuh. Apalagi ketika mendengar informasi dari sang supir tidak berani melanjutkan perjalanan dengan kondisi rem bis yang blong seperti itu.</p>
<p>Saya mencoba untuk mengerti.</p>
<p>Ini adalah upaya konstruktif dari sang supir untuk menjaga serta bertanggung jawab atas keselamatan seluruh penumpangnya. Sebenarnya, bis masih bisa dipaksakan jalan, meski pelan-pelan, namun tentu saja itu tak lantas berarti resiko kecelakaan bisa hilang. Beberapa penumpang memaksakan untuk meminta bis tetap dijalankan saja. Tapi sang supir berkeras. Ia menyatakan akan menunggu bis Tunggal Daya yang lewat berikutnya dan akan mengalihkan penumpang dibisnya pada bis tersebut.</p>
<p>Saya sepakat serta sangat menghormati tindakan dan sikap tegas sang Supir. Terlepas apakah sebelum berangkat ia belum memeriksa kondisi kendaraannya, namun pada situasi yang begitu riskan seperti yang tengah dialami, ia mengambil sebuah keputusan yang tidak populer, tapi tepat. Ia menggunakan kemampuan &#8220;mind eye&#8221;-nya untuk menganalisa kemungkinan buruk yang bakal terjadi bila kendaraan kami yang tak laik jalan itu tetap dipaksakan untuk berjalan. Akhirnya, setelah menunggu setengah jam, kami akhirnya ikut pada bis Tunggal Daya yang datang berikutnya dan Alhamdulillah, tiba dengan selamat ditempat tujuan.</p>
<p>Masih lekat dalam ingatan kita terbakarnya depo minyak Plumpang Minggu (18/1) pekan lalu yang menyebabkan tangki nomor 24 buatan tahun 1974 dilalap api dan mengakibatkan 1,5 juta liter Premium yang disimpan di tangki tersebut lenyap sia-sia menjadi gumpalan asap (Majalah Tempo Edisi 26 Januari – 1 Februari 2009). Penyebab kecelakaan seperti yang diumumkan polisi dan diungkapkan pada majalah tersebut cukup menyentak kalbu: katup pengaman tekanan didalam tangki tidak berfungsi baik.</p>
<p>Terjadinya malfungsi pada katup pengaman seyogyanya tidak terjadi jika manajemen perawatan obyek vital seperti depo minyak Plumpang dilaksanakan secara teliti dan tentu saja dengan menggunakan kemampuan “mind eye” yang tajam. Bila gejala-gejala awal kerusakan terbaca sejak dini dan bertanya secara kritis <span class="Apple-style-span" style="font-style:italic;">“WHAT could happen IF the unexpected occurs?” </span>maka kemungkinan terburuk seperti terbakarnya tangki yang menyebabkan satu orang tewas serta menyebabkan kerugian pada Pertamina sekitar Rp 15 milyar ini tak perlu terjadi.</p>
<p>Upaya-upaya pencegahan tentu segera dilakukan untuk mengantisipasinya. Penerapan audit total atas keselamatan dan keamanan pada 26 tangki raksasa di obyek vital depo Pertamina Plumpang menjadi hal yang niscaya adanya. Audit yang dilakukan pada depo yang berkapasitas 10 juta liter per hari tersebut, mesti dibarengi dengan analisa mendalam dan tentu tindak lanjut secara konsisten. Terlebih bahwa depo ini <a href="http://www.tempointeraktif.com/hg/opiniKT/2009/01/20/krn.20090120.154369.id.html">menyalurkan 20 persen kebutuhan bahan bakar nasional khususnya di wilayah Jakarta dan sekitarnya</a>. Diharapkan audit yang kemudian ditindaklanjuti tersebut tidak maju mundur seperti jogged poco-poco, atau naik turun seperti main yoyo atau malah berputar tak terarah seperti gasing.</p>
<p>Sebelum kejadian terbakarnya depo Plumpang, tanggal 11 Januari 2009, kita mendengar kabar yang sangat memilukan. KM Teratai Prima yang mengangkut 230 penumpang tenggelam di perairan Majene, Sulawesi Barat. Seperti yang disinyalir dari <a href="http://chappyhakim.kompasiana.com/2009/01/13/inilah-contoh-dari-kecelakaan-yang-bodoh-dan-tidak-bermutu/">tulisan Pak Chappy Hakim (mantan KSAU RI yang juga seorang blogger) di Kompasiana, kapal ini tenggelam karena kelebihan penumpang.</a></p>
<p>Sebuah fenomena yang klise sebenarnya. Karena dari beberapa kecelakaan transportasi yang terjadi (terutama transportasi laut) selalu masalahnya adalah ketidaktaatan mematuhi aturan dengan membawa penumpang melebihi batas yang dibolehkan. Dikabarkan ada 45 penumpang yang hilang tidak terdapat dalam manifest kapal bahkan konon malah lebih dari jumlah itu.</p>
<p>Kalau saja setiap pihak yang berkompoten menggunakan &#8220;Mind Eye&#8221;-nya menganalisa secara kritis kemungkinan-kemungkinan terburuk yang akan terjadi, maka tentu dapat dihindari kejadian yang fatal nanti. Bila pihak pengusaha kapal menggunakan &#8220;mind eye&#8221;-nya dengan tetap mematuhi aturan maksimum beban muatan kapal demi keselamatan penumpang diatas keuntungan materi yang bakal diraih didepan mata, atau pihak nakhoda kapal&#8211;lewat &#8220;mind eye&#8221;&#8211;nya tidak akan memberangkatkan kapal bila muatan kapal yang dipimpinnya melebihi batas, maka tentu resiko buruk dapat dihindari lebih awal.</p>
<p>Kesigapan melakukan antisipasi atas kemungkinan terburuk berkat “penerawangan” <span class="Apple-style-span" style="font-style:italic;">Mind Eye</span> akan menumbuhkan kesadaran spontan dalam diri kita untuk melakukan tindakan reaktif dan konstruktif guna mencegah hal-hal yang tidak diinginkan sejak dini.</p>
<p>Jadi, sudahkah anda mengasah &#8220;mind eye&#8221; anda?<br />
<a href="http://noeticode.com/SciMind_Eye.jpg"><span class="Apple-style-span" style="font-weight:bold;"><span class="Apple-style-span" style="font-style:italic;">Sumber Gambar</span></span></a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/atgpage.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/atgpage.wordpress.com/61/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/atgpage.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/atgpage.wordpress.com/61/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/atgpage.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/atgpage.wordpress.com/61/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/atgpage.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/atgpage.wordpress.com/61/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/atgpage.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/atgpage.wordpress.com/61/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/atgpage.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/atgpage.wordpress.com/61/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/atgpage.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/atgpage.wordpress.com/61/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=atgpage.wordpress.com&amp;blog=6551511&amp;post=61&amp;subd=atgpage&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://atgpage.wordpress.com/2009/02/07/mind-eye-dan-kesigapan-mengantisipasi-kemungkinan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a780e4610ba539d1a8a6511e95a64f9e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">amriltg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://images.amriltgobel.multiply.com/image/1/photos/upload/300x300/SYR7-AoKCmoAACx9TVc1/SciMind-Eye.jpg?et=7iLtOlK0xm8p9zACDUqXQA&#38;nmid=0" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Ciuman Terakhir Di Hari Terakhir</title>
		<link>http://atgpage.wordpress.com/2009/02/05/ciuman-terakhir-di-hari-terakhir/</link>
		<comments>http://atgpage.wordpress.com/2009/02/05/ciuman-terakhir-di-hari-terakhir/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Feb 2009 05:09:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>amriltg</dc:creator>
				<category><![CDATA[perjalanan]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[ciuman terakhir]]></category>
		<category><![CDATA[hari terakhir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://atgpage.wordpress.com/?p=59</guid>
		<description><![CDATA[If tomorrow never comes Will she know how much I loved her Did I try in every way to show her every day That she&#8217;s my only one And if my time on earth were through And she must face the world without me Is the love I gave her in the past Gonna be [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=atgpage.wordpress.com&amp;blog=6551511&amp;post=59&amp;subd=atgpage&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" style="float:left;margin:0 10px 10px 0;" src="http://images.amriltgobel.multiply.com/image/1/photos/upload/300x300/SVvTWwoKCmoAAD3ZEQk1/A0008M-4.jpg?et=5fW7UjbaTdJjx6LLz3DdOg&amp;nmid=0" border="0" alt="" /></p>
<p class="MsoNormal"><em>If tomorrow never comes<br />
Will she know how much I loved her<br />
Did I try in every way to show her every day<br />
That she&#8217;s my only one<br />
And if my time on earth were through<br />
And she must face the world without me<br />
Is the love I gave her in the past<br />
Gonna be enough to last<br />
If tomorrow never comes</em><br />
<strong><br />
&#8211;&#8221;If Tomorrow Never Comes&#8221;, Dinyanyikan oleh Ronan Keating</strong></p>
<p>SETIAP kali saat berangkat bekerja dipagi hari, saya selalu memeluk erat lalu mencium pipi dan kening kedua anak tercinta<span> <span class="Apple-converted-space"> </span></span>serta istri saya, dengan rentang waktu yang cukup lama. Pada awalnya mereka rikuh dan tak nyaman. Apalagi sang istri yang sempat curiga dan menganggap tindakan aneh bin ajaib saya ini sebagai salah satu gejala awal penyakit “Puber Kedua” kronis yang konon kerap melanda pria-pria diambang usia 40.</p>
<p class="MsoNormal">Tapi belakangan ini, “prosesi ciuman” itu sudah menjadi suatu kebiasaan tersendiri.</p>
<p class="MsoNormal">Terlebih ketika saya katakan pada mereka bahwa bisa jadi Hari ini adalah Hari Terakhir Papa bersama kalian. Saya, Rizky, Alya bahkan sang ibu sekalipun tak akan pernah bisa menebak apakah dihari itu, saya , sang tulang punggung pencari nafkah keluarga, akan menemui ajal disuatu tempat, disuatu waktu yang tak seorangpun tahu dan tak akan pernah lagi bertemu dengan mereka setelah itu. Ini telah menjadi sebuah misteri kehidupan yang niscaya adanya. Tak terelakkan.</p>
<p class="MsoNormal">Apalagi jika melihat fakta bahwa setiap hari kerja<span> <span class="Apple-converted-space"> </span></span>saya mesti menempuh perjalanan jauh antara Cikarang ke Cilandak yang berjarak 40 km dan tentu memiliki resiko sangat tinggi mengalami kecelakaan di Jalan.</p>
<p class="MsoNormal">Saya ingin memaknai<span> <span class="Apple-converted-space"> </span></span>dihari saya berangkat kerja sebagai hari terakhir bertemu mereka. Dan akan mempergunakan hari itu dengan<span class="Apple-converted-space"> </span><span> </span>tak akan melewatkan momen-momen terindah sedikitpun dengan orang-orang yang saya cinta.</p>
<p class="MsoNormal">Kelak bila “hal yang tak diharapkan tapi pasti datangnya” itu tiba, maka paling tidak tak ada rasa penyesalan yang tertinggal dibatin anak-anak dan istri saya, bila belum sempat melakukan ciuman terakhir untuk saya ketika masih hidup. Mungkin sebuah “tradisi” yang aneh dan menakutkan bagi segelintir orang. Terlebih bicara soal kematian, acapkali menjadi hal tabu yang dibicarakan.</p>
<p class="MsoNormal">Tapi bagi saya, dengan menganggap setiap hari adalah hari terakhir, maka<span> <span class="Apple-converted-space"> </span></span>saya selalu terpacu untuk melakukan hal terbaik minimal buat<span> </span>diri saya dan keluarga. Saya akan menghargai hari tersebut dengan berusaha tampil berinteraksi dengan orang lain disekitar saya dengan tingkatan paling unggul.<span class="Apple-converted-space"> </span><span> </span>Tak akan ada sedikitpun terlintas di benak saya untuk menebar rasa permusuhan serta kejahatan.</p>
<p class="MsoNormal"><span id="more-59"></span></p>
<p class="MsoNormal">Di hari libur, saya berusaha memanfaatkan momen tersebut sebaik-baiknya dengan melewatkan masa-masa paling indah bersama kedua anak saya. Mengajaknya bermain bola, berenang, bermain petak umpet, main sepeda bersama, mendongengkan mereka dengan kisah-kisah teladan dan kegiatan yang lain. Pada saat yang sama, di hari libur, saya berusaha membantu istri saya mengerjakan tugas-tugas rumah tangga yang kerap ia lakukan saat saya kekantor. Seperti mencuci pakaian, mengepel, menyapu dan menyetrika pakaian. Dengan perasaan riang dan tanpa beban. Saya ingin mereka tahu betapa saya mencintai<span class="Apple-converted-space"> </span><span> </span>dan membuat mereka merasa dihargai. Di hari terakhir hidup saya. Setiap hari.</p>
<p class="MsoNormal">Sekitar empat bulan silam, dalam perjalanan pulang ke kantor, diatas bis menuju Bekasi Timur, saya duduk disamping seorang ibu yang menangis sesunggukan. Pada awalnya saya terganggu karena konsentrasi saya membaca majalah jadi<span> <span class="Apple-converted-space"> </span></span>buyar karenanya. Dengan perasaan ingin tahu saya lalu bertanya apa gerangan yang membuatnya menangis.</p>
<p class="MsoNormal">Ibu itu bercerita, minggu lalu ia baru saja kehilangan putra tertuanya yang tewas akibat kecelakaan. Anak ibu tersebut sedang mengendarai sepeda motor pinjaman dari kawannya<span> <span class="Apple-converted-space"> </span></span>dan tiba-tiba terserempet dan digilas truk Container di daerah Bulak Kapal. Yang membuat ibu itu menangis penuh penyesalan adalah karena sehari sebelumnya, putra kesayangannya tersebut yang baru duduk di Kelas 2 SMA merengek minta dibelikan sepeda motor baru.<span> <span class="Apple-converted-space"> </span></span>Sebenarnya, ia memiliki biaya untuk hal itu namun konon sudah dialokasikan untuk menambah modal warungnya. Betapa kecewanya sang anak. Tapi ia tak melawan dan memilih mengikuti nasehat sang ibu untuk membatalkan membeli motor impiannya itu. “Kapan-kapan saja kalau ada modal lagi”, kata ibu itu mengulang kalimatnya pada sang anak.</p>
<p class="MsoNormal">Tak disangka, keesokan harinya ajal datang menjemput sang putra yang menggunakan motor pinjaman kawannya.<span class="Apple-converted-space"> </span><span> </span>Betapa menyesalnya sang ibu saat menyadari semuanya telah terlambat. Janjinya pun tak tertunaikan buat sang anak.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Di kesempatan lain, beberapa tahun silam, seorang kawan pria secara terbuka bercurhat ria kepada saya dengan tangisan berderai. Ia memiliki sahabat wanita yang diam-diam dicintainya setengah mati.<span> <span class="Apple-converted-space"> </span></span>Dan ia tahu, sahabat wanitanya itupun memendam perasaan serupa terhadapnya. Tapi sejauh itu tak ada komitmen apa-apa diantara mereka. Masing-masing dari mereka menyimpan rahasia hati itu dalam-dalam. Sampai suatu ketika musibah itu datang. Sahabat wanita yang dicintainya itu tewas mengenaskan dalam sebuah kecelakaan lalulintas di Bogor.</p>
<p class="MsoNormal">Betapa menyesalnya kawan saya tadi tidak segera mengungkapkan perasaan yang dipendamnya lama itu dan melewatkan masa-masa indah bersama wanita yang dicintainya hingga disisa akhir hidupnya. Ia menangis panjang dan mengutuk kebodohan yang telah ia lakukan. Namun semuanya sudah terlambat. Dan penyesalan, pada akhirnya selalu datang belakangan. Dengan rasa duka mendalam, ia bertutur, kalau saja waktu bisa diputar kebelakang, maka ia, dengan segala keberanian yang dimiliki akan mengungkapkan isi hatinya pada sang wanita pujaan secara jujur dan terbuka. Dan bila meski kemudian sang wanita impiannya itu wafat, setidaknya ia sudah tahu apa yang ada dalam perasaannya saat ini. Tidak dalam keadaan tersirat saja.</p>
<p class="MsoNormal">Saya mengambil hikmah dari semua kisah itu.</p>
<p class="MsoNormal">Kita mesti senantiasa menghargai hari ini sebagai karunia terbesar dari Tuhan. Karena hidup adalah hari ini. Bila kita menyadari itu, maka setiap lintasan momen yang terjadi tak akan kita lewatkan sedikitpun. Dan dengan menghargai hari ini sebagai hari terakhir dalam hidup akan senantiasa memacu semangat untuk berbuat yang terbaik dengan cara-cara yang luar biasa.</p>
<p class="MsoNormal"><span class="Apple-style-span" style="font-style:italic;">Yesterday is a history, Tomorrow is a mystery. Today is a Gift. That’s why we call is Present.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span class="Apple-style-span" style="font-weight:bold;">Catatan:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span class="Apple-style-span" style="font-weight:bold;"><strong>Tulisan ini juga dimuat di <a href="http://public.kompasiana.com/2009/01/01/ciuman-terakhir-di-hari-terakhir/" target="_blank">Kompasiana</a></strong><br />
</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/atgpage.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/atgpage.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/atgpage.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/atgpage.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/atgpage.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/atgpage.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/atgpage.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/atgpage.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/atgpage.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/atgpage.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/atgpage.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/atgpage.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/atgpage.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/atgpage.wordpress.com/59/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=atgpage.wordpress.com&amp;blog=6551511&amp;post=59&amp;subd=atgpage&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://atgpage.wordpress.com/2009/02/05/ciuman-terakhir-di-hari-terakhir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a780e4610ba539d1a8a6511e95a64f9e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">amriltg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://images.amriltgobel.multiply.com/image/1/photos/upload/300x300/SVvTWwoKCmoAAD3ZEQk1/A0008M-4.jpg?et=5fW7UjbaTdJjx6LLz3DdOg&#38;nmid=0" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Buat Para Ayah Yang Menyimpan Resah Dengan Senyum Merekah</title>
		<link>http://atgpage.wordpress.com/2009/01/31/buat-para-ayah-yang-menyimpan-resah-dengan-senyum-merekah/</link>
		<comments>http://atgpage.wordpress.com/2009/01/31/buat-para-ayah-yang-menyimpan-resah-dengan-senyum-merekah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 31 Jan 2009 02:29:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>amriltg</dc:creator>
				<category><![CDATA[perjalanan]]></category>
		<category><![CDATA[ayah]]></category>
		<category><![CDATA[kenangan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://atgpage.wordpress.com/?p=10</guid>
		<description><![CDATA[KEJADIAN disuatu siang beberapa minggu lalu yang saya alami saat menumpang taksi dari kantor di kawasan Lebak Bulus menuju workshop di Cakung sungguh sangat membekas dihati. Dering suara handphone sang supir seketika membangunkan saya dari lelap tidur. “Ya, Ma? Ada apa? Papa lagi nyetir nih,” kata sang supir taksi yang memegang handphone di tangan kanan dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=atgpage.wordpress.com&amp;blog=6551511&amp;post=10&amp;subd=atgpage&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="margin:0 0 .5em;padding:0;" align="center"><br class="Apple-interchange-newline" /><br class="Apple-interchange-newline" /><img style="max-width:100%;border-style:none;margin:0;padding:0;" src="http://daengbattala.com/wp-content/uploads/2008/09/papakikialya-2.jpg" alt="papakikialya-2" /></p>
<p style="margin:0 0 .5em;padding:0;">KEJADIAN disuatu siang beberapa minggu lalu yang saya alami saat menumpang taksi dari kantor di kawasan Lebak Bulus menuju workshop di Cakung sungguh sangat membekas dihati. Dering suara handphone sang supir seketika membangunkan saya dari lelap tidur.</p>
<p style="margin:0 0 .5em;padding:0;">“Ya, Ma? Ada apa? Papa lagi nyetir nih,” kata sang supir taksi yang memegang handphone di tangan kanan dan kemudi di tangan kiri.</p>
<p style="margin:0 0 .5em;padding:0;">“Apa? Susu si Nisa sudah habis? Kan’ baru kemarin dibeli?. Iya..ya..tiga hari lalu. Tapi kok cepat amat sih habisnya,Ma?. Biasanya kan’ sekaleng itu bisa buat seminggu?,” sahut si supir menjawab panggilan telepon dan berusaha tidak kehilangan konsentrasi mengemudi.</p>
<p style="margin:0 0 .5em;padding:0;">Saya pura-pura tidak memperhatikan dengan membuang pandangan ke arah samping. Ruas tol Jakarta Outer Ring Road cukup sepi saat itu. Tak banyak kendaraan yang berlalu lalang disana.</p>
<p style="margin:0 0 .5em;padding:0;">“Iya, Ma. Sabar. Nanti Papa beliin setelah kembali dari Pool malam ini,” ujar sang supir akhirnya. Helaan nafas panjang terdengar saat ia menutup telepon.</p>
<p style="margin:0 0 .5em;padding:0;">Menyadari saya memperhatikannya, sang supir mendadak berbalik ke belakang ditempat saya duduk. Raut penyesalan terlihat di wajahnya.</p>
<p style="margin:0 0 .5em;padding:0;">“Maaf ya pak, jadi terganggu tidurnya,”kata si supir santun,”Ini nih anak saya cepat banget minum susunya. Masa’ baru tiga hari lalu dibeli udah habis?. Moga-moga setoran kali ini bisa cukup beli sekaleng”.</p>
<p style="margin:0 0 .5em;padding:0;">Saya tersenyum dan mengangguk mafhum. Sang supir balas tersenyum getir.</p>
<p style="margin:0 0 .5em;padding:0;">Sebagai sesama ayah, saya paham keresahan yang ia alami.</p>
<p style="margin:0 0 .5em;padding:0;"><span id="more-10"></span></p>
<p style="margin:0 0 .5em;padding:0;">Ingatan saya mendadak melayang ke sebuah peristiwa 17 tahun silam, di meja makan ruang keluarga kami di<span class="Apple-converted-space"> </span><a href="http://daengbattala.com/?p=39">Perumteks.</a><span class="Apple-converted-space"> </span>Dihadapan saya duduk ayah dengan mata menyala. Saat itu saya mengemukakan keinginan saya untuk membayar SPP sendiri dari hasil honorarium penulisan yang saya terima dari sejumlah media cetak lokal di Makassar. Sekitar 6 bulan saya menabung dan hari itu dengan bangga saya mengungkapkan keinginan itu didepan ayah.</p>
<p style="margin:0 0 .5em;padding:0;">“Dengar ya nak. Walaupun kamu sudah bisa bayar ongkos pete-pete (angkot) sendiri ke kampus dan sekarang mau bayar uang SPP dari hasil kerja kerasmu menulis di koran, kamu tetap menjadi tanggung jawab ayah untuk menyekolahkanmu sampai selesai. Meski ayahmu ini hanya pegawai negeri berpenghasilan kecil, tapi ayah tetap berusaha melakukan yang terbaik demi membiayai kamu dan adik-adikmu bersekolah. Camkan itu!,” kata ayah dengan suara bergetar.</p>
<p style="margin:0 0 .5em;padding:0;">Saya tertunduk dan menggigit bibir.</p>
<p style="margin:0 0 .5em;padding:0;">Tak pernah terbersitpun niat dihati saya untuk melukai hati ayah seperti ini. Keinginan saya tak lain adalah berusaha membantu orang tua dengan menggunakan uang tabungan saya dari hasil menulis untuk membayar SPP.</p>
<p style="margin:0 0 .5em;padding:0;">Bagi saya, itu adalah sebuah kebanggaan dan kehormatan membayar uang kuliah dari hasil keringat sendiri. Saya tak menyangka, ayah justru merasa tersinggung karena soal ini.</p>
<p style="margin:0 0 .5em;padding:0;">Mendadak ayah bangun dari tempat duduk dan memeluk saya erat-erat. Keharuan terasa meruap diudara.</p>
<p style="margin:0 0 .5em;padding:0;">“Ayah bangga padamu, nak,” ucap ayah saya lirih ditelinga, “tapi tolong, biarkan ayah yang bayar SPP-mu sebagai bentuk tanggung jawab orangtua untuk anaknya. Kalau ongkos pete-pete ke kampus, silahkan kamu bayar pakai duit hasil kerja kerasmu menulis di koran. Ayah tak akan halang-halangi itu”.</p>
<p style="margin:0 0 .5em;padding:0;">Saya memandang wajah ayah yang teduh. Sudut mata<span class="Apple-converted-space"> </span><a href="http://daengbattala.com/?p=10">lelaki panutan yang tak pernah letih mencatat kenangan itu<span class="Apple-converted-space"> </span></a>basah oleh airmata. Beliau memeluk saya lagi lebih erat.</p>
<p style="margin:0 0 .5em;padding:0;">“Kelak, ketika kamu jadi ayah, nak. Kamu akan mengerti ini,” ujar ayah saya lembut. Dada saya seketika disesaki keharuan mendalam.</p>
<p style="margin:0 0 .5em;padding:0;">Lamunan saya buyar saat si supir taksi menceritakan betapa susahnya mendapatkan setoran yang “cukup layak” dibawa pulang untuk biaya makan anak dan isteri di zaman yang makin susah ini. Kerapkali ia terpaksa ngutang pada rekan sekerja.</p>
<p style="margin:0 0 .5em;padding:0;">“Tapi bila sampai dirumah, saya tetap berusaha tampil gembira dan tersenyum untuk anak dan istri saya pak, meski rasanya sedih dihati ini tak bisa memberikan nafkah yang memadai buat mereka,” kata sang supir dengan nada pilu.</p>
<p style="margin:0 0 .5em;padding:0;">Saya termenung.</p>
<p style="margin:0 0 .5em;padding:0;">Ada berapa banyak ayah–seperti supir taksi ini–yang menyimpan demikian rapi keresahannya dan tampil begitu tangguh sebagai sosok ayah yang dengan tegar menyatakan dihadapan istri dan anak-anaknya<em>,”Jangan khawatir, biar ayah yang bereskan semuanya”.</em></p>
<p style="margin:0 0 .5em;padding:0;">Ada berapa banyak ayah yang tak mampu meredakan keresahannya hingga kemudian membiarkan tangannya berlumur darah, mengambil sesuatu yang bukan haknya, mengorbankan hak orang lain demi menuntaskan rasa gundah dihati. Sementara dirumah, anak dan istri menunggu hingga larut malam kedatangan sang ayah dimana pada saat yang sama lelaki tangguh itu telah dalam keadaan kritis meregang nyawa, babak belur dihajar massa karena kejahatan yang dilakukannya dan hanya tersisa nafas terakhir di atas aspal yang basah oleh darahnya sendiri.</p>
<p style="margin:0 0 .5em;padding:0;">Ada berapa banyak ayah yang terpaksa menukar kehormatannya dengan melakukan korupsi, menipu rekan sekerja, berbuat curang dengan memanipulasi angka-angka demi meredam rasa resah didada hingga “orang-orang dirumah” tak perlu tahu dan bertanya halalkah duit yang dibawa pulang ?</p>
<p style="margin:0 0 .5em;padding:0;">Tak sedikit pula ayah yang memendam kegusaran dengan mengakhiri hidup diatas tali gantungan seakan-akan itu adalah solusi terakhir mengatasi persoalan.</p>
<p style="margin:0 0 .5em;padding:0;">Batin saya kian tergetar saat sang supir berkata lirih, “Kesedihan itu selalu saya simpan rapat-rapat dihati pak. Saya tak ingin keluarga saya merasakan keresahan yang saya alami dengan menciptakan kegusaran baru pada diri mereka. Tengah malam, saat saya sholat tahajjud, saya mengadukan persoalan ini pada sang Allah SWT. Berharap agar Sang Maha Pencipta melindungi agar jangan sampai saya berada dalam kekufuran akibat keresahan yang saya alami dan memperoleh rezeki yang halal serta layak untuk keluarga keesokan paginya”.</p>
<p style="margin:0 0 .5em;padding:0;">Saya menggigit bibir.</p>
<p style="margin:0 0 .5em;padding:0;">Terbayang kembali ekspresi wajah ayah saya 17 tahun silam. Beliau tak ingin menciptakan kegundahan baru pada diri saya, anak pertamanya, dengan mengambil alih tanggung jawab membayar SPP. Beliau ingin, dengan segala keterbatasan dan kemampuan yang dimiliki, tetap menggenggam tanggung jawab sekaligus keresahan itu sebagai ayah.</p>
<p style="margin:0 0 .5em;padding:0;">Saat mencium pipi kedua anak saya tadi pagi, mata saya berkaca-kaca. Sungguh, saya begitu ingin menjadi ayah yang mampu menyimpan rapi segenap resah dihati ini dengan penuh kesabaran lalu menampilkan senyum merekah. Untuk mereka dan untuk kehidupan yang begitu indah ini.</p>
<p style="margin:0 0 .5em;padding:0;"><strong>Catatan:</strong></p>
<p style="margin:0 0 .5em;padding:0;">Tulisan ini juga dimuat di<a href="http://public.kompasiana.com/2008/12/21/buat-para-ayah-yang-menyimpan-resah-dengan-senyum-merekah/" target="_blank"> Kompasiana</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/atgpage.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/atgpage.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/atgpage.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/atgpage.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/atgpage.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/atgpage.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/atgpage.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/atgpage.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/atgpage.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/atgpage.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/atgpage.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/atgpage.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/atgpage.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/atgpage.wordpress.com/10/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=atgpage.wordpress.com&amp;blog=6551511&amp;post=10&amp;subd=atgpage&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://atgpage.wordpress.com/2009/01/31/buat-para-ayah-yang-menyimpan-resah-dengan-senyum-merekah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a780e4610ba539d1a8a6511e95a64f9e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">amriltg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://daengbattala.com/wp-content/uploads/2008/09/papakikialya-2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">papakikialya-2</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Berdamai Dengan Ketidaksempurnaan : Sebuah Kisah Tentang Rasa Marah</title>
		<link>http://atgpage.wordpress.com/2009/01/30/berdamai-dengan-ketidaksempurnaan-sebuah-kisah-tentang-rasa-marah/</link>
		<comments>http://atgpage.wordpress.com/2009/01/30/berdamai-dengan-ketidaksempurnaan-sebuah-kisah-tentang-rasa-marah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Jan 2009 05:01:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>amriltg</dc:creator>
				<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[ketidaksempurnaan]]></category>
		<category><![CDATA[marah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://atgpage.wordpress.com/?p=54</guid>
		<description><![CDATA[Yang Paling saya tahu tentang Marah adalah, dia lebih banyak melukai diri sendiri ketimbang orang yang kita marahi – Oprah Winfrey, Pembawa acara TV Terkenal (dikutip dari Majalah Intisari Maret 2007) Kejadian 12 tahun silam itu masih membekas di ingatan. Dari tempat kos di Cawang, saya bermaksud menumpang Metromini ke Mall Kalibata untuk membeli buku. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=atgpage.wordpress.com&amp;blog=6551511&amp;post=54&amp;subd=atgpage&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="Apple-style-span" style="border-collapse:separate;color:#000000;font-family:georgia;font-size:12px;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;letter-spacing:normal;line-height:20px;orphans:2;text-indent:0;text-transform:none;white-space:normal;widows:2;word-spacing:0;"></p>
<p style="margin-top:0;"><em><br class="Apple-interchange-newline" /><img class="alignleft" style="width:236px;height:148px;max-width:100%;float:left;display:inline;border-style:none;margin:0 7px 2px 0;padding:4px;" src="http://images.amriltgobel.multiply.com/image/1/photos/upload/300x300/SV5h3goKCmoAAA@ie2g1/marah2.jpg?et=NF1gLIhu93UcpNjuJDGYMw&amp;nmid=0" border="0" alt="" width="256" height="162" />Yang Paling saya tahu tentang Marah adalah, dia lebih banyak melukai diri sendiri ketimbang orang yang kita marahi</em></p>
<p style="margin-top:0;"><strong>– Oprah Winfrey, Pembawa acara TV Terkenal (dikutip dari Majalah Intisari Maret 2007)</strong></p>
<p style="margin-top:0;">Kejadian 12 tahun silam itu masih membekas di ingatan.</p>
<p style="margin-top:0;">Dari tempat kos di Cawang, saya bermaksud menumpang Metromini ke Mall Kalibata untuk membeli buku.</p>
<p style="margin-top:0;">Matahari bersinar sangat terik waktu itu. Rasanya ubun-ubun kepala bagai terbakar. Saya merutuk kesal lupa membawa topi yang sudah saya siapkan sebelumnya dikamar kos.</p>
<p style="margin-top:0;">Saat akan turun, terjadilah musibah itu. Bis yang saya tumpangi itu melaju kencang sebelum kaki saya benar-benar menapak kokoh dijalan. Tak ayal saya pun jatuh terguling-guling diatas aspal. Masih untung, saya memiliki “peredam kejut” yang lumayan mumpuni berupa bokong yang padat montok sehingga ketika tubuh jatuh berdebum di aspal tidak terlalu menghasilkan akibat yang parah.</p>
<p style="margin-top:0;">Tapi tetap saja sakit.</p>
<p style="margin-top:0;">Celana Jeans saya kotor dan ditambah rasa malu bukan main disaksikan sejumlah orang yang berada di depan mall.</p>
<p style="margin-top:0;"><span id="more-54"></span></p>
<p style="margin-top:0;">Kemarahan saya seketika memuncak. Saya lalu berlari mengejar Metromini itu yang kebetulan sedang berjalan pelan karena tepat didepannya ada pintu perlintasan kereta api. Akhirnya saya berhasil naik ke atas metromini dan langsung menuju tempat pengemudi berada.</p>
<p style="margin-top:0;">Dengan geram saya langsung mencengkram kerah kaos kumal supir yang berperawakan lebih kecil dari saya itu seraya menatap tajam kepadanya. Sang kondektur mencoba membantu tapi ia tidak berani ketika saya sudah memasang kuda-kuda untuk menghajarnya bila ia mau mendekat. Saya telah siap menerapkan ilmu beladiri yang pernah saya pelajari untuk mengantisipasi segala kemungkinan terburuk. Termasuk resiko bila dikeroyok.</p>
<p style="margin-top:0;">Sang supir sangat ketakutan. Saya lalu melontarkan sejumlah makian pedas dan sumpah serapah terhadapnya telah memperlakukan penumpang secara tidak manusiawi, masih untung saya—lelaki muda, kekar dan sehat<span class="Apple-converted-space"> </span><img class="wp-smiley" style="max-width:100%;border-style:none;padding:0;" src="http://public.kompasiana.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif" alt="D" /><span class="Apple-converted-space"> </span>—yang jadi korban, bagaimana jika seorang ibu hamil, anak-anak atau orang cacat yang mengalami nasib serupa?.Bukankah hasinya akan lebih fatal?.</p>
<p style="margin-top:0;">Berkali-kali si supir menyampaikan permohonan maaf dengan suara lirih. Ia menyatakan sedang mengejar setoran sehingga buru-buru menekan pedal gas sebelum saya betul-betul menjejakkan kaki dengan sempurna.Hampir saja tinju saya melayang ke wajahnya ketika beberapa orang penumpang datang melerai. Saya turun dari Metromini dengan rasa puas telah melampiaskan kemarahan. Saat bis itu bergerak maju, saya masih sempat menendang bumper belakang bis dengan gemas.</p>
<p style="margin-top:0;">Saya memutuskan untuk membatalkan niat saya ke toko buku. Dengan kondisi celana kotor dan rasa sakit di bagian punggung serta bokong, maka pilihan terbaik adalah kembali ketempat kos, menenangkan diri sekaligus beristirahat. Sudah hilang “mood” saya mencari buku hari itu.</p>
<p style="margin-top:0;">Sebelum tiba ke tempat kos, saya mampir sejenak di wartel terdekat. Menelepon orang tua saya di Makassar .</p>
<p style="margin-top:0;">Di telepon, saya menceritakan apa yang baru saja saya alami pada ayah. Berapi-api dan penuh semangat, juga sekaligus menunjukkan “legitimasi” dan kebanggaan bahwa putra sulungnya yang merantau jauh ini berhasil “menaklukkan” Jakarta dengan menundukkan supir metromini yang ceroboh. Ayah hanya mendengarkan saya<span><span class="Apple-converted-space"> </span></span><span style="font-style:italic;">nyerocos</span><span><span class="Apple-converted-space"> </span></span>panjang ditelepon.</p>
<p style="margin-top:0;">“Kamu belum bisa menjadi seorang pemimpin yang baik, bahkan untuk dirimu sendiri sekalipun,” suara bariton ayah tiba-tiba terasa menikam hati begitu tajam di ujung telepon.</p>
<p style="margin-top:0;">Saya melongo.</p>
<p style="margin-top:0;">Tak menduga malah mendapat tanggapan mengejutkan seperti ini.</p>
<p style="margin-top:0;">“Kualitas kepemimpinanmu berada di level paling rendah, karena kamu tak mampu mengendalikan amarah. Camkan itu,” tegas ayah saya lagi.</p>
<p style="margin-top:0;">Saya mencoba berapologi bahwa apa yang saya lakukan tadi adalah bagian dari upaya saya untuk memberikan pelajaran pada sang supir Metromini untuk lebih berhati-hati, agar kejadian fatal serupa tidak terjadi lagi pada orang lain. Cukuplah saya saja yang jadi korban.</p>
<p style="margin-top:0;">“Tindakanmu sudah benar,” kata ayah,”tapi coba kamu pikir bagaimana bila kamu melakukannya dengan cara yang berbeda, bukan dengan cara koboi yang seperti kamu lakukan tadi?”,</p>
<p style="margin-top:0;">“Cara berbeda? Maksudnya, Pa?” tanya saya kebingungan.</p>
<p style="margin-top:0;">Saya mendengar helaan nafas panjang ayah saya diujung telepon.</p>
<p style="margin-top:0;">“Kamu tetap mengejar dan menemui supir tadi lalu mengingatkannya—dengan kalimat yang lembut, bukan dengan rasa marah—bahwa tindakannya salah dan lebih berhati-hati dikemudian hari. Buka hatimu lebar-lebar dan cobalah berdamai dengan ketidaksempurnaan. Boleh jadi supir tadi mengejar setoran yang ditargetkan untuk biaya makan anak istrinya sehingga mesti buru-buru mencari penumpang lebih banyak atau supir tadi tidak mendengar aba-aba kondekturnya kamu mau turun atau ia sedang berada dalam fikiran yang kalut sehingga tak bisa berkonsentrasi penuh saat menurunkanmu sebagai penumpang, atau justru begini, coba kamu evaluasi kembali cara turunmu dari bis tadi, apakah sudah benar?. Dengan memahami ketidaksempurnaan yang terjadi pada supir itu dan pada kamu sendiri, tak akan ada alasan bagimu untuk marah begitu rupa”, tutur ayah saya panjang lebar di ujung telepon.</p>
<p style="margin-top:0;">Saya menggigit bibir.</p>
<p style="margin-top:0;">Tapi jiwa muda saya memberontak, bagaimanapun saya tetap beranggapan, mesti dilakukan sebuah tindakan yang drastis serta sedikit anarkis, untuk menyadarkan tindakan ceroboh yang dilakukan oleh supir tadi.</p>
<p style="margin-top:0;">“Kamu sudah sholat Dhuhur belum?” tanya ayah lembut, beliau seperti tahu apa yang sedang bergolak di batin saya .</p>
<p style="margin-top:0;">“Belum,” sahut saya pelan.</p>
<p style="margin-top:0;">“Coba kamu sholat Dhuhur dulu dikamar kos. Semoga dengan begitu, amarah yang melanda hatimu segera reda. Setan selalu berada didekat orang-orang marah. Telepon Papa lagi kalau kamu masih belum bisa tenang,” ujar ayah saya.</p>
<p style="margin-top:0;">Setelah menutup telepon dan membayar biaya wartel, saya kembali ke kamar kos menunaikan sholat Dhuhur.</p>
<p style="margin-top:0;">Diatas sajadah, usai sholat, saya menangis tertahan. Pelupuk mata saya basah dan dada disesaki keharuan mendalam.</p>
<p style="margin-top:0;">Rasa sesal menyelinap perlahan dari hati. Saya segera memohon ampun kepada Allah SWT atas kelalaian yang telah saya lakukan tadi. Emosi telah menguasai pikiran dan hati saya sehingga mengabaikan kesadaran untuk melakukan hal yang lebih rasional.</p>
<p style="margin-top:0;">Ketika itu terjadi, tak ada satu pilihanpun dalam fikiran saya, kecuali membalas dan melampiaskannya. Rasa marah yang saya alami pada akhirnya menutup semua kemungkinan pilihan yang bisa saya raih seperti ketika saya tidak sedang marah.</p>
<p style="margin-top:0;">Bila kemudian tadi saya berhasil memukul sang supir, se-“benar” apapun alasan tindakan saya, tetap saja faktanya saya telah menganiaya seseorang dan itu sudah melanggar hukum. Beruntunglah, Allah SWT masih melindungi saya dari tindakan konyol yang kontraproduktif itu.</p>
<p style="margin-top:0;">Filsuf besar Yunani Aristoteles pernah mengatakan “Siapapun bisa marah, tetapi marah pada orang yang tepat, dengan kadar yang sesuai, pada waktu yang tepat, demi tujuan yang benar, dan dengan cara yang baik, bukanlah hal yang mudah”.</p>
<p style="margin-top:0;">Saya memahami makna dari nasehat ayah saya : Bila marah cobalah berdamai dengan ketidaksempurnaan. Kesempurnaan manusia justru berada pada ketidaksempurnaannya. Persoalannya—seperti kata Aristoteles—adalah tak mudah “mengelola” rasa marah yang “baik dan benar”.</p>
<p style="margin-top:0;">Ujian pengendalian diri tidak selamanya kita dapatkan pada saat kondisi yang damai dan tenang. Kemarahan senantiasa mengandung emosi aktif untuk mendorong orang segera melakukan tindakan dengan mengabaikan logika.</p>
<p style="margin-top:0;">Diane Tice, Psikolog dari Case Western University pernah meneliti strategi seseorang menurunkan amarah seperti menyendiri, mendengarkan music, berjalan kaki, berolahraga dan relaksasi. Sementara Nabi Muhammad SAW menyatakan sebuah tips berharga :”Kalau kamu sedang marah padahal kamu berdiri, cobalah duduk, Kalau belum reda, cobalah berbaring atau mengambil air wudhu”.</p>
<p style="margin-top:0;">Krisis financial global yang melanda dunia saat ini dan telah berimbas pada negeri kita seperti merebaknya PHK dan tutupnya sejumlah pabrik karena kehilangan order serta naiknya harga bahan-bahan kebutuhan pokok, tak urung menyuburkan situasi seseorang menjadi lebih mudah marah. Belum lagi Pesta Demokrasi yang akan kita selenggarakan tahun ini turut menambah ketegangan dan kerapkali memicu rasa marah.</p>
<p style="margin-top:0;">Saya ingin membagi sebuah kisah menarik yang ditulis oleh Suryana Abdurrauf berjudul “Menahan Marah” yang saya kutip dari Buku Kumpulan Hikmah Republika “Pahala Itu Ibadah” (Penerbit Republika,2005).</p>
<p style="margin-top:0;">Suatu Hari Rasulullah SAW bertamu ke rumah Abu Bakar Shiddiq. Ketika sedang bercengkrama, tiba-tiba datang seorang Arab Badui menemui Abubakar dan langsung mencelanya. Makian, kata-kata kotor keluar dari mulut orang itu. Namun Abubakar tidak menghiraukannya. Ia melanjutkan perbincangan dengan Rasulullah. Melihat hal ini Rasulullah tersenyum.</p>
<p style="margin-top:0;">Kemudian orang Arab Badui itu kembali memaki Abubakar. Kali ini makian dan hinaannya lebih kasar. Namun dengan keimanan yang kokoh serta kesabarannya, Abubakar tetap membiarkan orang tersebut. Rasulullah kembali memberikan senyum,</p>
<p style="margin-top:0;">Semakin marahlah orang Arab Badui ini. Untuk ketiga kalinya ia mencerca Abubakar dengan makian yang lebih menyakitkan. Kali ini, sebagai manusia biasa yang memiliki hawa nafsu, Abubakar tak dapat menahan amarahnya. Dibalasnya makian orang Arab Badui itu dengan makian pula. Terjadilah perang mulut. Seketika itu Rasulullah beranjak dari tempat duduknya. Ia meninggalkan Abubakar tanpa mengucapkan salam.</p>
<p style="margin-top:0;">Melihat hal ini, Abubakar sebagai tuan rumah tersadar dan menjadi bingung. Dikejarnya Rasulullah yang sudah sampai ke halaman rumah. Kemudian Abubakar berkata: “Wahai Rasulullah, janganlah Anda biarkan aku dalam kebingungan yang sangat. Jika aku berbuat kesalahan, tolong jelaskan kesalahanku”.</p>
<p style="margin-top:0;">Rasulullah menjawab:”Sewaktu ada seorang Arab Badui datang lalu mencelamu, dan engkau tidak menanggapinya, aku tersenyum karena banyak malaikat disekelilingmu yang akan membelamu dihadapan Allah. Begitupun, yang kedua kali ketika ia mencelamu dan engkau tetap membiarkannya, maka para Malaikat semakin bertambah jumlahnya. Oleh sebab itu, aku tersenyum kembali. Namun ketika yang ketiga ia mencelamu dan engkau menanggapinya lalu membalasnya, maka seluruh Malaikat pergi meninggalkanmu. Karena Iblis hadir disisimu. Oleh karena itu aku tak ingin berdekatan dengannya dan aku tidak memberikan salam kepadanya”.</p>
<p style="margin-top:0;">Sungguh ini sebuah pelajaran berharga bagi kita semua untuk tetap memelihara hati dan jiwa kita dari rasa amarah. Dunia akan menjadi lebih baik dan tenteram bila setiap orang dapat mengendalikan rasa marahnya serta pada akhirnya kita akan dapat mencari solusi atas setiap persoalan dengan jernih dan elegan.</p>
<p style="margin-top:0;"><a href="http://qitori.wordpress.com/2007/10/23/kemarahan-membangkitkan-fantasi/">Sumber Gambar</a></p>
<p></span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/atgpage.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/atgpage.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/atgpage.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/atgpage.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/atgpage.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/atgpage.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/atgpage.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/atgpage.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/atgpage.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/atgpage.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/atgpage.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/atgpage.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/atgpage.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/atgpage.wordpress.com/54/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=atgpage.wordpress.com&amp;blog=6551511&amp;post=54&amp;subd=atgpage&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://atgpage.wordpress.com/2009/01/30/berdamai-dengan-ketidaksempurnaan-sebuah-kisah-tentang-rasa-marah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a780e4610ba539d1a8a6511e95a64f9e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">amriltg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://images.amriltgobel.multiply.com/image/1/photos/upload/300x300/SV5h3goKCmoAAA@ie2g1/marah2.jpg?et=NF1gLIhu93UcpNjuJDGYMw&#38;nmid=0" medium="image" />

		<media:content url="http://public.kompasiana.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif" medium="image">
			<media:title type="html">D</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kematian Itu Nasehat Kehidupan</title>
		<link>http://atgpage.wordpress.com/2009/01/29/kematian-itu-nasehat-kehidupan/</link>
		<comments>http://atgpage.wordpress.com/2009/01/29/kematian-itu-nasehat-kehidupan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Jan 2009 06:11:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>amriltg</dc:creator>
				<category><![CDATA[kenangan]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://atgpage.wordpress.com/?p=74</guid>
		<description><![CDATA[Saya bersama Almarhum Ilham, duduk disebuah acara Bazaar yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Teknik Sipil UNHAS, sekitar bulan Juli tahun 1992 Judul posting diatas diucapkan oleh Agus Kuncoro Adi, pemeran Azzam pada sinetron &#8220;Para Pencari Tuhan Jilid 2&#8243; di SCTV kemarin subuh (Rabu, 10/09). Sebuah ucapan yang cukup menghentak kesadaran dan menjadi ironi, terlebih ketika [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=atgpage.wordpress.com&amp;blog=6551511&amp;post=74&amp;subd=atgpage&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><img src="http://daengbattala.com/wp-content/uploads/2008/09/bersamaalmilham-1.jpg" alt="bersama almilham" width="429" height="295" /></p>
<p align="center"><em>Saya bersama Almarhum Ilham, duduk disebuah acara Bazaar yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Teknik Sipil UNHAS, sekitar bulan Juli tahun 1992</em></p>
<p>Judul posting diatas diucapkan oleh Agus Kuncoro Adi, pemeran Azzam pada sinetron &#8220;Para Pencari Tuhan Jilid 2&#8243; di SCTV kemarin subuh (Rabu, 10/09). Sebuah ucapan yang cukup menghentak kesadaran dan menjadi ironi, terlebih ketika itu, saya baru saja tertawa terpingkal-pingkal saat Bang Jack (Deddy Mizwar) memperagakan cara menghadapi mati &#8220;yang baik dan benar&#8221; kepada ketiga anak angkatnya Chelsea, Barong dan Juki (Grup Lawak Bajaj). Ucapan Azzam itu begitu menggetarkan dan membuat saya duduk terpaku di kursi. Termenung dalam diam.</p>
<p>Saya tiba-tiba terkenang pada salah seorang sahabat saya, rekan satu angkatan di Teknik Mesin UNHAS, yang telah lebih dulu &#8220;pergi&#8221; menghadap sang Pencipta, Ilham (1970-2003).</p>
<p>Kepedihan mendalam saya rasakan saat menerima kabar kematian Ilham disebuah siang yang lengas tahun 2003.  Di ujung telepon, Arief Muqarrabin, rekan satu angkatan saya dan juga pasangan satu skripsi Ilham mengabarkan kabar duka itu. Suaranya bergetar menahan keharuan. Tenggorokan saya tercekat, tak sabar mendengar berita yang akan disampaikan. &#8220;Fik, Ilham telah wafat, tadi malam karena kecelakaan kerja di Jambi&#8221;, ujar Arief pelan. Kami mendadak tercekam dalam sebuah kebisuan panjang. Dada saya terasa sesak, begitu deras rasanya kesedihan dan keharuan melanda hati. Saya hampir tak bisa berkata apa-apa lagi. Nyaris tak percaya rasanya, sahabat akrab saya itu wafat dalam usia relatif muda.</p>
<p><span id="more-74"></span> Terbayang wajah Ilham, yang oleh kami kawan-kawan seangkatannya&#8211;dengan tega&#8211;telah menjulukinya sebagai si Douglas, karena wajahnya mirip sekali dengan petinju kelas berat dunia James Buster Douglas. Jadilah ia dipanggil sebagai Ilham Douglas.Tapi lelaki bertubuh jangkung ini tak mempermasalahkan itu. Malah dengan gaya kocak dan jenaka ia menirukan gaya sang Petinju didepan kami semua saat menunggu waktu kuliah tiba. Kami yang menyaksikan tertawa berderai.</p>
<p>Dengan motor Vespa warna merahnya, Ilham tak pernah lupa menawarkan jasa pada saya untuk ikut bersamanya kedepan gerbang kampus dan dari sana saya dapat meneruskan perjalanan ke rumah di Maros dengan Pete-Pete (angkot) yang berjarak kurang lebih 20 km dari kampus UNHAS.</p>
<p>&#8220;Daripada kamu jalan kaki, mending ikut saya aja. Lumayan jauh lho dari kampus kita ke gerbang depan,&#8221; begitu katanya dengan ramah. Saya mengangguk. Memang, jarak kampus teknik ke gerbang depan sekitar 1,5 km, dan jika ditempuh dengan berjalan kaki memang cukup melelahkan.</p>
<p>Pada sebuah kesempatan, Ilham pernah memperingatkan saya untuk menjaga kesehatan dan tidak terlalu sering begadang di kampus. &#8220;Jaga kesehatanmu, Fik. Jangan begadang melulu di kampus. Kalau sakit nanti gak bisa kuliah,&#8221; katanya disela-sela deru motor Vespa merahnya yang fenomenal. Rasa kesetiakawanan yang kental begitu nyata pada sosok lelaki pendiam dan murah senyum ini.</p>
<p>Saya menghela nafas panjang, mencoba melepaskan himpitan rasa haru. Arief menjelaskan, bersama beberapa rekan-rekan kami seangkatan yang berdomisili di Jakarta, Jenazah Ilham akan diantar ke bandara Soekarno Hatta dan untuk selanjutnya dibawa dengan pesawat pertama kembali ke Makassar.</p>
<p>Di Bandara Hasanuddin Makassar nanti, jenazah Ilham disambut dan dibawa oleh rekan-rekan kami seangkatan yang ada disana kemudian diantar ke rumah duka di Pangkep yang berjarak kurang lebih 50 km dari Makassar, tempat dimana sahabat tercinta kami itu dimakamkan. Ilham meninggalkan seorang istri dan seorang anak perempuan, yang saat ia wafat masih berumur 3 bulan. Saya tak dapat ikut waktu itu karena Rizky, anak tertua saya sedang sakit dan tengah dirawat di Rumah Sakit Siaga Pejaten Pasar Minggu.</p>
<p>Kematian memang sesuatu yang niscaya yang bakal kita alami.</p>
<p>Tak ada seorangpun dapat menduga, kapan dan bagaimana ajal itu tiba. Serta tak ada seorangpun yang bisa dapat menunda datangnya &#8220;kiamat kecil&#8221; ini. Dan sebagai sebuah nasehat kehidupan, kematian mengajarkan kita untuk senantiasa berusaha melakukan yang terbaik agar kehidupan yang kita jalani menjadi lebih bermakna, baik pada diri sendiri maupun orang lain. Terutama lagi yang paling penting adalah menjadi hamba Allah yang taat dan bertakwa sehingga kita memiliki &#8220;bekal&#8221; yang memadai saat menghadapNya dengan <em>&#8220;khusnul khatimah&#8221;.</em></p>
<p><a href="http://myqalbu.wordpress.com/2007/07/03/sebuah-renungan-mengingat-kematian/">Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma pernah berkata</a>, “Aku pernah menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai orang ke sepuluh yang datang, lalu salah seorang dari kaum Anshor berdiri seraya berkata, “Wahai Nabi Allah, siapakah manusia yang paling cerdik dan paling tegas?” Beliau menjawab, “(adalah) Mereka yang paling banyak mengingat kematian dan paling siap menghadapinya. Mereka itulah manusia-manusia cerdas; mereka pergi (mati) dengan harga diri dunia dan kemuliaan akhirat.” (HR: Ath-Thabrani, dishahihkan al-Mundziri)</p>
<p>Semoga kita semua menjadi hamba-hamba Allah yang senantiasa mengingat kematian, sehingga kelak, kemuliaan dunia dan akhirat dapat diraih sekaligus ketika saat itu datang. Amin.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/atgpage.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/atgpage.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/atgpage.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/atgpage.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/atgpage.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/atgpage.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/atgpage.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/atgpage.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/atgpage.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/atgpage.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/atgpage.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/atgpage.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/atgpage.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/atgpage.wordpress.com/74/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=atgpage.wordpress.com&amp;blog=6551511&amp;post=74&amp;subd=atgpage&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://atgpage.wordpress.com/2009/01/29/kematian-itu-nasehat-kehidupan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a780e4610ba539d1a8a6511e95a64f9e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">amriltg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://daengbattala.com/wp-content/uploads/2008/09/bersamaalmilham-1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">bersama almilham</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Binar Mata Gadis Kecil Yang Menggigil</title>
		<link>http://atgpage.wordpress.com/2009/01/28/binar-mata-gadis-kecil-yang-menggigil/</link>
		<comments>http://atgpage.wordpress.com/2009/01/28/binar-mata-gadis-kecil-yang-menggigil/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Jan 2009 04:56:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>amriltg</dc:creator>
				<category><![CDATA[perjalanan]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[anak jalanan]]></category>
		<category><![CDATA[kemiskinan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://atgpage.wordpress.com/?p=52</guid>
		<description><![CDATA[Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu Demi satu impian yang kerap ganggu tidurmu Anak sekecil itu tak sempat nikmati waktu Dipaksa pecahkan karang lemah jarimu terkepal… (Iwan Fals, Sore Tugu Pancoran) Tanpa sadar air mata saya tumpah disebuah sore yang muram dan kuyup dibasuh hujan yang turun sangat deras. Peristiwa mengesankan itu terjadi kemarin. Selama [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=atgpage.wordpress.com&amp;blog=6551511&amp;post=52&amp;subd=atgpage&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="Apple-style-span" style="border-collapse:separate;color:#000000;font-family:georgia;font-size:12px;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;letter-spacing:normal;line-height:20px;orphans:2;text-indent:0;text-transform:none;white-space:normal;widows:2;word-spacing:0;"></p>
<p style="margin-top:0;"><span style="font-style:italic;"><br class="Apple-interchange-newline" />Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu<br />
Demi satu impian yang kerap ganggu tidurmu<br />
Anak sekecil itu tak sempat nikmati waktu<br />
Dipaksa pecahkan karang lemah jarimu terkepal…</span></p>
<p style="margin:0;padding:2px 0 10px;"><em>(<a href="http://www.justsomelyrics.com/292040/Iwan-Fals-Sore-Tugu-Pancoran-Lyrics">Iwan Fals, Sore Tugu Pancoran</a>)</em></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-top:0;" align="center"><a title="anak_jalanan.jpg" href="http://humanisclub.files.wordpress.com/2007/10/anak_jalanan.jpg"><img style="max-width:100%;border-style:none;padding:0;" src="http://humanisclub.files.wordpress.com/2007/10/anak_jalanan.jpg?w=460" alt="anak_jalanan.jpg" align="left" /></a></p>
<p style="margin:0;padding:2px 0 10px;">Tanpa sadar air mata saya tumpah disebuah sore yang muram dan kuyup dibasuh hujan yang turun sangat deras.</p>
<p style="margin:0;padding:2px 0 10px;">Peristiwa mengesankan itu terjadi kemarin. Selama ini, sejujurnya, saya hampir tak pernah merasa semelankolis itu. Tapi pemandangan pilu yang berada di hadapan saya seketika membuat batin saya tersentak dan terasa begitu ngilu mengiris nurani.</p>
<p style="margin:0;padding:2px 0 10px;">Hari itu , seperti biasa, jika bis yang membawa saya pulang dari kantor ke Bekasi Timur (dari sana saya melanjutkan lagi ke rumah di Cikarang) tidak tersedia, saya akan naik bis alternatif yang menuju ke Terminal Kampung Rambutan lalu kemudian melanjutkan dengan bis lain ke Bekasi Timur. Saya naik bis 610 (ukurannya sebesar Metromini/Kopaja) jurusan Lebak Bulus-Kampung Rambutan, dari sebuah halte di seberang kantor saya.</p>
<p style="margin:0;padding:2px 0 10px;">Sejak pukul empat sore hujan mengguyur deras kawasan Lebak Bulus dan sekitarnya. Untunglah, sejak berangkat dari rumah saya sudah menyiapkan jaket, payung dan topi sebagai antisipasi bila hujan deras terjadi. Kurang lebih 15 menit menunggu di halte tak lama kemudian muncullah bis 610 yang sudah dengan kondisi nyaris miring kekiri saking penuhnya. Setelah melipat payung, saya segera melompat ke dalam bis dan ikut “bergelantungan” serta berdesakan bersama penumpang-penumpang lain yang tidak mendapatkan tempat duduk. Bis langsung melaju kencang memasuki Jalan Tol Lingkar Luar Jakarta.</p>
<p style="margin:0;padding:2px 0 10px;"><span id="more-52"></span></p>
<p style="margin:0;padding:2px 0 10px;">Hanya kurang lebih 15 menit kemudian, bis memasuki daerah ex pintu tol Pasar Rebo. Di perempatan Pasar Rebo, saat bis itu kebetulan berhenti karena lampu merah menyala, sebagian besar penumpang turun. Syukurlah, saya berhasil mendapatkan tempat duduk di bangku kedua dari belakang setelah cukup pegal berdiri berhimpitan.</p>
<p style="margin:0;padding:2px 0 10px;">Pada saat tersebutlah kejadian itu berlangsung. Dua orang bocah lelaki dan perempuan, kira-kira berumur sebaya dengan anak saya Rizky (5,5 tahun)dan Alya (3,5 tahun) masuk kedalam bis. Rambut acak-acakan dan baju mereka berdua basah terkena hujan. Sang anak terbesar (laki-laki) dengan sigap mengeluarkan sebuah botol air mineral kosong berisi pasir dari kantongnya lalu bernyanyi dengan suara serak bersama peralatan seadanya itu. Sang adik (perempuan) berkeliling membagikan amplop kecil kepada masing-masing penumpang untuk diisi “ongkos mengamen”.</p>
<p style="margin:0;padding:2px 0 10px;">Saat saya menerima amplop dari si gadis kecil, terlihat tangannya gemetar dan tubuhnya menggigil kedinginan. Postur tubuh anak itu sungguh kurus dibalut oleh kaos kumal yang kedodoran. Wajahnya pucat dan terlihat ia menggigit bibirnya menahan rasa dingin yang mendera. Sorot sendu matanya membuat hati saya seketika luluh. Ia masih begitu kecil, seumur anak bungsu saya, Alya.</p>
<p style="margin:0;padding:2px 0 10px;">“Pak, saya lapar. belum makan dari tadi,” kata bocah itu dengan suara lirih. Ia lalu tertunduk menekuri lantai bis yang kusam.</p>
<p style="margin:0;padding:2px 0 10px;">Tanpa terasa, mata saya basah. Keharuan begitu dalam menyentak dada.</p>
<p style="margin:0;padding:2px 0 10px;">Terbayang dimata saya, Alyalah yang berdiri disana, menjadi anak itu. Kehujanan. Kelaparan. Kedinginan. Lagu Iwan Fals–seperti yang saya kutip di awal posting ini– mendapatkan pembenaran yang nyata didepan saya. Gadis kecil itu tak sempat menikmati waktu indahnya masa kanak-kanak yang ceria kerena mesti “memecahkan karang dengan lemah jari terkepal”.</p>
<p style="margin:0;padding:2px 0 10px;">Saya lalu tersenyum dan sedikit kikuk menghapus titik air yang menetes di kelopak mata dengan punggung tangan. Saya kemudian merogoh saku kantong seraya mengulurkan selembar uang Rp 50,000,- ke gadis kecil tadi. Amplop yang diserahkan kepada saya sebelumnya saya serahkan bersama dengan uang tersebut. Matanya berbinar dan memperlihatkan ‘perolehan’nya yang mungkin menurutnya cukup besar itu pada sang kakak yang masih sibuk mengamen didepan.</p>
<p style="margin:0;padding:2px 0 10px;">“Cepat kamu beli makanan bersama kakakmu ya nak. Kamu bisa gampang sakit karena lapar dan kedinginan,” kata saya dengan suara serak karena tenggorokan tercekat keharuan.</p>
<p style="margin:0;padding:2px 0 10px;">Tangan saya spontan membelai lembut rambutnya yang basah. Gadis kecil itu mengangguk pelan. Senyumnya mengembang. Tak lama kemudian kedua sosok mungil itu turun dari bis, berlari menembus rinai hujan. Saya diam terpaku memandangi keduanya dari balik kaca jendela yang buram. Lampu telah hijau, bis yang saya tumpangi itupun melaju kencang menuju terminal Kampung Rambutan. Dan mata sayapun basah kembali.</p>
<p style="margin:0;padding:2px 0 10px;">Kota-Kota berbicara tentang kemiskinan dengan cara paling menikam. Bukan karena, sejumlah orang hidup serba kurang dan pas-pasan melainkan karena kontras disana menganga tajam. “Kemelaratan yang paling nyata adalah yang terdapat di kota-kota, karena disinilah ekses-ekses saling bertetangga”, kata Andre Gilde, seperti saya kutip dari salah satu tulisan Goenawan Moehammad di buku Catatan Pinggir 4.</p>
<p style="margin:0;padding:2px 0 10px;">Jakarta adalah satu contoh nyata dimana “ekses-ekses itu saling berdekatan”. Saking jelasnya, sudah mirip menjadi sebuah pemandangan klise. Lihat saja,rumah-rumah mewah bertype real estate berkolam renang luas dan listrik ribuan watt tampil kontras dengan gubuk-gubuk kumuh yang berada ditepi kali yang tercemar. Seseorang bisa dengan mudah bertaruh dan melepaskan uang Rp 5 juta hanya untuk sebuah hal yang remeh kerapkali berpapasan dengan orang yang hanya bisa hidup dengan Rp 10.000/hari. Mengenaskan.</p>
<p style="margin:0;padding:2px 0 10px;">Dan yang kian memilukan, anak-anak, seperti gadis kecil yang saya temui itu menjadi salah satu korban atas ekses-ekses di dunia yang riuh ini…</p>
<p style="margin:0;padding:2px 0 10px;"><a href="http://humanisclub.files.wordpress.com/2007/10/anak_jalanan.jpg">Sumber Gambar</a></p>
<p style="margin:0;padding:2px 0 10px;"><strong>Catatan:</strong></p>
<p style="margin:0;padding:2px 0 10px;">Tulisan ini juga dimuat di <a href="http://public.kompasiana.com/2009/01/14/binar-mata-gadis-kecil-yang-menggigil/" target="_blank">Kompasiana</a></p>
<p></span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/atgpage.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/atgpage.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/atgpage.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/atgpage.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/atgpage.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/atgpage.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/atgpage.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/atgpage.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/atgpage.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/atgpage.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/atgpage.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/atgpage.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/atgpage.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/atgpage.wordpress.com/52/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=atgpage.wordpress.com&amp;blog=6551511&amp;post=52&amp;subd=atgpage&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://atgpage.wordpress.com/2009/01/28/binar-mata-gadis-kecil-yang-menggigil/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a780e4610ba539d1a8a6511e95a64f9e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">amriltg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://humanisclub.files.wordpress.com/2007/10/anak_jalanan.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">anak_jalanan.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
