Ciuman Terakhir Di Hari Terakhir Februari 5, 2009
Posted by amriltg in perjalanan, renungan.Tags: ciuman terakhir, hari terakhir
add a comment

If tomorrow never comes
Will she know how much I loved her
Did I try in every way to show her every day
That she’s my only one
And if my time on earth were through
And she must face the world without me
Is the love I gave her in the past
Gonna be enough to last
If tomorrow never comes
–”If Tomorrow Never Comes”, Dinyanyikan oleh Ronan Keating
SETIAP kali saat berangkat bekerja dipagi hari, saya selalu memeluk erat lalu mencium pipi dan kening kedua anak tercinta serta istri saya, dengan rentang waktu yang cukup lama. Pada awalnya mereka rikuh dan tak nyaman. Apalagi sang istri yang sempat curiga dan menganggap tindakan aneh bin ajaib saya ini sebagai salah satu gejala awal penyakit “Puber Kedua” kronis yang konon kerap melanda pria-pria diambang usia 40.
Tapi belakangan ini, “prosesi ciuman” itu sudah menjadi suatu kebiasaan tersendiri.
Terlebih ketika saya katakan pada mereka bahwa bisa jadi Hari ini adalah Hari Terakhir Papa bersama kalian. Saya, Rizky, Alya bahkan sang ibu sekalipun tak akan pernah bisa menebak apakah dihari itu, saya , sang tulang punggung pencari nafkah keluarga, akan menemui ajal disuatu tempat, disuatu waktu yang tak seorangpun tahu dan tak akan pernah lagi bertemu dengan mereka setelah itu. Ini telah menjadi sebuah misteri kehidupan yang niscaya adanya. Tak terelakkan.
Apalagi jika melihat fakta bahwa setiap hari kerja saya mesti menempuh perjalanan jauh antara Cikarang ke Cilandak yang berjarak 40 km dan tentu memiliki resiko sangat tinggi mengalami kecelakaan di Jalan.
Saya ingin memaknai dihari saya berangkat kerja sebagai hari terakhir bertemu mereka. Dan akan mempergunakan hari itu dengan tak akan melewatkan momen-momen terindah sedikitpun dengan orang-orang yang saya cinta.
Kelak bila “hal yang tak diharapkan tapi pasti datangnya” itu tiba, maka paling tidak tak ada rasa penyesalan yang tertinggal dibatin anak-anak dan istri saya, bila belum sempat melakukan ciuman terakhir untuk saya ketika masih hidup. Mungkin sebuah “tradisi” yang aneh dan menakutkan bagi segelintir orang. Terlebih bicara soal kematian, acapkali menjadi hal tabu yang dibicarakan.
Tapi bagi saya, dengan menganggap setiap hari adalah hari terakhir, maka saya selalu terpacu untuk melakukan hal terbaik minimal buat diri saya dan keluarga. Saya akan menghargai hari tersebut dengan berusaha tampil berinteraksi dengan orang lain disekitar saya dengan tingkatan paling unggul. Tak akan ada sedikitpun terlintas di benak saya untuk menebar rasa permusuhan serta kejahatan.
Buat Para Ayah Yang Menyimpan Resah Dengan Senyum Merekah Januari 31, 2009
Posted by amriltg in perjalanan.Tags: ayah, kenangan
add a comment

KEJADIAN disuatu siang beberapa minggu lalu yang saya alami saat menumpang taksi dari kantor di kawasan Lebak Bulus menuju workshop di Cakung sungguh sangat membekas dihati. Dering suara handphone sang supir seketika membangunkan saya dari lelap tidur.
“Ya, Ma? Ada apa? Papa lagi nyetir nih,” kata sang supir taksi yang memegang handphone di tangan kanan dan kemudi di tangan kiri.
“Apa? Susu si Nisa sudah habis? Kan’ baru kemarin dibeli?. Iya..ya..tiga hari lalu. Tapi kok cepat amat sih habisnya,Ma?. Biasanya kan’ sekaleng itu bisa buat seminggu?,” sahut si supir menjawab panggilan telepon dan berusaha tidak kehilangan konsentrasi mengemudi.
Saya pura-pura tidak memperhatikan dengan membuang pandangan ke arah samping. Ruas tol Jakarta Outer Ring Road cukup sepi saat itu. Tak banyak kendaraan yang berlalu lalang disana.
“Iya, Ma. Sabar. Nanti Papa beliin setelah kembali dari Pool malam ini,” ujar sang supir akhirnya. Helaan nafas panjang terdengar saat ia menutup telepon.
Menyadari saya memperhatikannya, sang supir mendadak berbalik ke belakang ditempat saya duduk. Raut penyesalan terlihat di wajahnya.
“Maaf ya pak, jadi terganggu tidurnya,”kata si supir santun,”Ini nih anak saya cepat banget minum susunya. Masa’ baru tiga hari lalu dibeli udah habis?. Moga-moga setoran kali ini bisa cukup beli sekaleng”.
Saya tersenyum dan mengangguk mafhum. Sang supir balas tersenyum getir.
Sebagai sesama ayah, saya paham keresahan yang ia alami.
Binar Mata Gadis Kecil Yang Menggigil Januari 28, 2009
Posted by amriltg in perjalanan, renungan.Tags: anak jalanan, kemiskinan
add a comment
Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu
Demi satu impian yang kerap ganggu tidurmu
Anak sekecil itu tak sempat nikmati waktu
Dipaksa pecahkan karang lemah jarimu terkepal…
(Iwan Fals, Sore Tugu Pancoran)
Tanpa sadar air mata saya tumpah disebuah sore yang muram dan kuyup dibasuh hujan yang turun sangat deras.
Peristiwa mengesankan itu terjadi kemarin. Selama ini, sejujurnya, saya hampir tak pernah merasa semelankolis itu. Tapi pemandangan pilu yang berada di hadapan saya seketika membuat batin saya tersentak dan terasa begitu ngilu mengiris nurani.
Hari itu , seperti biasa, jika bis yang membawa saya pulang dari kantor ke Bekasi Timur (dari sana saya melanjutkan lagi ke rumah di Cikarang) tidak tersedia, saya akan naik bis alternatif yang menuju ke Terminal Kampung Rambutan lalu kemudian melanjutkan dengan bis lain ke Bekasi Timur. Saya naik bis 610 (ukurannya sebesar Metromini/Kopaja) jurusan Lebak Bulus-Kampung Rambutan, dari sebuah halte di seberang kantor saya.
Sejak pukul empat sore hujan mengguyur deras kawasan Lebak Bulus dan sekitarnya. Untunglah, sejak berangkat dari rumah saya sudah menyiapkan jaket, payung dan topi sebagai antisipasi bila hujan deras terjadi. Kurang lebih 15 menit menunggu di halte tak lama kemudian muncullah bis 610 yang sudah dengan kondisi nyaris miring kekiri saking penuhnya. Setelah melipat payung, saya segera melompat ke dalam bis dan ikut “bergelantungan” serta berdesakan bersama penumpang-penumpang lain yang tidak mendapatkan tempat duduk. Bis langsung melaju kencang memasuki Jalan Tol Lingkar Luar Jakarta.
Romantika Teler Sang Pekerja Komuter Januari 17, 2009
Posted by amriltg in perjalanan.add a comment
DULU, saya merasa, ayah adalah pegawai yang paling berbahagia didunia ini. Betapa tidak?. Karena rumah kami hanya berjarak 50 meter dari kantor, maka ayah berangkat tidak lebih pagi, masih sempat pulang makan siang dan tiba kembali dirumah lebih cepat. Hebat!. Saya bermimpi akan menjadi pegawai berbahagia seperti beliau. Tapi sayang, sudah hampir 5 tahun terakhir, saya melakoni profesi sebagai Pekerja Komuter.
Tinggal di Cikarang yang berjarak 45 km dari kantor saya di daerah Lebak Bulus. Tiap hari kerja saya mesti berangkat jam 06.00 pagi dan sampai dirumah menjelang pukul 20.00 malam. Ironis.Tapi saya memang mesti siap menghadapi resiko itu. Membeli rumah di Jakarta yang tak jauh dari kantor, untuk kelas pekerja kere berpenghasilan pas-pasan seperti saya ini hanyalah menjadi angan-angan belaka. Dan rumah di BSD alias Bekasi Sono Dikit, menjadi pilihan karena harganya relatif terjangkau dan kalaupun mesti kredit ke Bank tidak terlalu mencekik anggaran rumah tangga serta biaya hidup sehari-hari.
Sebelum memiliki rumah sendiri, saya dan istri memang sempat mengontrak rumah dekat dari kantor. Kami mengontrak rumah kecil berkamar dua di Kompleks POMAD Kalibata sementara kantor saya ada di Gedung Aldevco Octagon Jl.Warung Buncit. Memang sungguh nikmat, saya bisa berangkat ke kantor lebih siang, masih sempat nonton acara infotainment KISS, menghabiskan sarapan pagi dengan santai serta pulang kerumah makan siang saat istirahat sampai akhirnya kembali ke rumah saat matahari belum benar-benar tenggelam.
Dendang Nada Dering Yang “Menendang” Januari 15, 2009
Posted by amriltg in Lingkungan, perjalanan.Tags: handphone, menendang, nada dering
add a comment
ERA teknologi komunikasi di Indonesia beberapa waktu belakangan ini kian memanjakan para pengguna sekaligus pemerhatinya. Satu hal yang menjadi sorotan saya adalah maraknya nada dering dan juga nada dering tunggu yang kian enak didengar serta layak disimak. Lagu-lagu hits Indonesia terkini kerap saya dengar baik sebagai nada tunggu saat menelepon kawan yang memiliki fasilitas itu maupun juga sebagai nada dering.
Saya bahkan sering menemui orang yang secara norak mendemonstrasikan nada dering handphone yang dimilikinya diatas bis atau angkutan umum. Kemarin pagi misalnya.
Saat saya sedang terkantuk-kantuk menuju terlelap diatas bis Mayasari Bakti 132 dari Bekasi Timur ke Lebak Bulus, mendadak handphone salah seorang penumpang disamping saya berdering–mungkin tepatnya : berdendang–dengan keras. Lagunya nggak tanggung-tanggung : “Munajat Cinta”-nya The Rock. Saya melirik sekilas ke sang pemegang handphone–seorang lelaki muda berusia sekitar 25-30 tahun– yang terlihat tetap santai dan sama sekali tidak ada niat untuk membalas panggilan telepon yang masuk.
Semula saya sedikit terhibur pada alunan suara Ahmad Dhani, vokalis The Rock menyanyikan lagu itu. Lumayan, sebagai lagu pengantar tidur. Lama-lama kok saya jadi gregetan. Ini orang ada niat mau balas panggilan telepon gak sih atau cuma mau memamerkan ringtone handphonenya?, demikian saya membatin. Hati saya kian gemas ketika orang tadi terlihat mengangguk-anggukkan kepala mengikuti suara lagu dari handphonenya. Hampir saja saya menegur orang tadi, namun segera saya urungkan saat dia terlihat beraksi memencet tombol “OK/Yes” untuk membalas panggilan.
Jangan Tidur Bila Jadi Kondektur Januari 10, 2009
Posted by amriltg in perjalanan.Tags: bis, cikarang, kondektur
add a comment
MODA Transportasi dari Cikarang–sebagai salah satu kota satelit di bagian timur ibukota negeri ini–ke Jakarta sudah semakin beragam.
Tidak hanya bus-bus berkapasitas besar (misalnya Bis Mayasari Bhakti dari kota Jababeka Perumahan Cikarang Baru yang melayani trayek ke Blok M dan Kota serta Shuttle Bus dari Perumahan Lippo Cikarang ke Blok M), namun juga bis-bis sedang yang melayani rute jarak dekat seperti dari Cikarang ke Bekasi Timur (K-50), Bekasi Barat (K-45) dan Cawang-UKI (K-59).
Sejak kantor saya pindah ke daerah Lebak Bulus 5 bulan silam, saya lebih banyak menggunakan jasa transportasi bis berkapasitas sedang ke Bekasi Timur (K-50) dan dari sana saya melanjutkan dengan menggunakan bis besar jurusan Bekasi Timur-Lebak Bulus (Mayasari Bhakti No.132 atau Tunggal Daya) yang melewati tol Cikunir atau JORR (Jakarta Outer Ring Road). Lebih cepat ketimbang melewati Cawang atau Blok M yang macet cukup parah. Saya bisa berangkat lebih siang dari rumah karena waktu tempuh menjadi lebih pendek dan lebih cepat.
Bis K-50 mangkal di dua tempat. Yang pertama adalah di pertigaan tol Cikarang Barat dan yang kedua di pintu masuk kawasan Industri EJIP-Cikarang. Biasanya bis K-50 mangkal bareng dengan bis K-45 jurusan Cikarang-Bekasi Barat. Tarifnya sama : Rp 5,000/orang untuk sekali jalan. Saya juga menggunakan jasa bis K-50 ini untuk pulang kerja dari Bekasi Timur ke Cikarang. Tarif tetap sama dan biasanya saya naik di pangkalan khusus K-50 dekat mulut tol Bekasi Timur.
Ada hal unik yang biasa terjadi jika saya naik bis K-50 ini. Jadi kondektur!.
Hidup Sederhana, Disitu Kuncinya! Januari 6, 2009
Posted by amriltg in perjalanan.add a comment
Hidup Sederhanaa..
Gak Punya apa-apa,
tapi banyak cinta..
Hidup Bermewah-mewahan
Punya banyak harta, tapi sengsara
Seperti Para Koruptor..
(Seperti Para Koruptor, Slank, 2008)
Seorang pengamen jalanan melantunkan lagu anyar andalan Slank tersebut diatas bis yang saya tumpangi dalam perjalanan menuju ke kantor tadi pagi. Disamping saya duduk seorang pria tua dengan uban yang nyaris menutupi seluruh kepalanya nampak benar menikmati lagu itu dengan mengangguk-anggukkan kepalanya mengikuti irama. Bibirnya menyunggingkan senyum.
“Lagunya enak ya dik,” katanya membuka pembicaraan.
Saya mengangguk setuju.
“Iya pak, pokoknya amit-amit deh, jangan sampai kita punya harta banyak tapi malah hidup sengsara,” saya menyahut pelan.
“Bener, dik. Hidup Sederhana, terlebih di zaman krisis finansial global seperti sekarang ini, jadi kunci utama membuat kita tetap bertahan,” jawab bapak tersebut bersemangat.
“Tapi pak, walau hidup sederhana, banyak cinta, namun duit gak ada, tetap aja sengsara lho pak,” kata saya mengadu argumen.
Si Bapak menyunggingkan senyum lebar. Ia menatap saya dalam-dalam.
“Ya..kamu benar. Umumnya memang, banyak yang beranggapan, pangkal kesengsaraan itu ada di duit. Dan kebanyakan orang, secara kasat mata melihat, setiap orang kaya pasti bahagia dan setiap orang miskin pasti sengsara. Tapi kebahagiaan tidak melulu bicara soal duit. Ukurannya ada disini nih,” sahut si Bapak sembari menunjuk dadanya. “Hati”, imbuhnya pelan.
Saya menggigit bibir.
Tolooong..Anak Saya Takut Naik Pesawat Terbang! Januari 5, 2009
Posted by amriltg in perjalanan.add a comment

SAYA tidak tahu, apakah anak saya telah mengalami sebuah indoktrinasi sistematis dari Mr.T tokoh bertubuh kekar yang–ironisnya– takut naik pesawat, sampai-sampai sang rekan Murdock mesti membiusnya dulu sebelum dibawa terbang (tokoh ini diperankan oleh B.A.Baracus dalam serial televisi terkenal The A-Team).
Awalnya ketika kami sekeluarga berencana pulang ke kampung halaman istri saya di Yogya. Untuk alasan efisiensi waktu, saya sudah menetapkan agar kami sekeluarga mudik kesana dengan menggunakan pesawat terbang. Saya bahkan sudah mengontak travel agent langganan kantor saya untuk memesan tiket. Namun saat rencana itu saya ungkapkan, anak tertua saya, Rizky, ia tiba-tiba berseru kencang : “Aku tidak mau naik pesaawaaat! Takut Jatuh! Pokoknya tidak mauuu!!”.
Saya terperangah.
Dan saya makin tersentak kaget, ketika si bungsu putri kecil saya, Alya ikut-ikutan nyeletuk dengan suara cadelnya, “Aku juga gak mauu naik pecawat ! Takut Jatuh!”.
Saya menepuk jidat. Istri saya menelan ludah. Kami tercekam dalam kesunyian.
Peristiwa kecelakaan beruntun yang menimpa beberapa penerbangan di Indonesia, rupanya menjadi pangkal semua itu. Ada tragedi jatuhnya pesawat ADAM AIR di Perairan Majene dan peristiwa terbakarnya pesawat Garuda Indonesia saat mendarat di Bandara Adisucupto yang menjadi referensi seram bagi kedua anak saya untuk anti naik pesawat terbang.
Tayangan televisi yang memberitakan peristiwa tersebut dan kerap memberikan pemandangan dramatis menambah ketakutan kedua anak saya.
Mengiris Malam Bersama Ojek Bandara Januari 1, 2009
Posted by amriltg in perjalanan.Tags: bandara, ojek
add a comment
MALAM baru saja mendekati pucuknya saat pesawat saya mendarat mulus di Bandara Hasanuddin Jum’at, 24 Juni 2006. Udara malam Makassar yang sejuk segera menyergap hidung saya ketika menuruni tangga pesawat yang berangkat dari Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng Pukul 20.30 WIB. Kekesalan saya lantaran pesawat yang saya tumpangi itu terlambat berangkat satu jam dari jadwal yang sudah ditetapkan, mendadak menguap. Kerinduan menginjakkan kaki kembali ditanah kelahiran dan tempat melewatkan sebagian besar masa muda saya terlampiaskan begitu menyaksikan lampu-lampu di terminal penumpang seluas 10.185 m2 berkelap-kelip semarak dan masih memperlihatkan kesibukan meski sudah menjelang tengah malam.
Kedatangan saya ke Makassar kali ini adalah dalam rangka menghadiri akad nikah dan resepsi pernikahan adik bungsu saya, Diah Ramayanti Gobel dan Herlambang Susatya yang akan dilaksanakan keesokan harinya. Karena jatah cuti saya dikantor terbatas dan juga Alya, anak bungsu saya sedang sakit, maka saya tidak mengikut sertakan anak dan istri pada kunjungan saya keMakassar kali ini. Di lobby bandara Hasanuddin yang berjarak kurang lebih 20 km dari rumah orang tua saya di Bumi Antang Permai, saya mengabarkan kedatangan. Di ujung telepon, ayah saya sempat mengungkapkan kekhawatiran jika terjadi hal yang tak diinginkan selama perjalanan saya dari bandara ke rumah di tengah malam. Saya menepis kekhawatiran beliau dengan menyatakan bahwa, meski sudah 11 tahun meninggalkan Makassar, saya tidak akan kesasar pulang dan mudah-mudahan bisa menghindari “hal-hal yang tidak diinginkan”.
Keluar dari terminal penumpang, saya segera disambut oleh sejumlah pengemudi taksi yang menawarkan jasa angkutan dengan ramah. Saya menggeleng pelan dan dalam hati membulatkan tekad untuk berjalan kaki dari kawasan Bandara Hasanuddin menuju jalan poros Makassar-Maros yang berjarak kurang lebih 500 meter, kemudian melanjutkan perjalanan dengan pete-pete ke Antang. Saya tidak akan melewatkan kesempatan mudik kali ini dengan menikmati sebanyak-banyaknya beragam nuansa di kota yang menggoreskan berjuta kenangan di hati saya itu.

