jump to navigation

Cinta Yang Menumbuhkan, Cinta Yang Memberdayakan Februari 25, 2009

Posted by amriltg in Uncategorized.
add a comment

Saya selalu terpukau pada kemampuan ayah merawat tanaman.

Pada saat pulang ke Makassar November tahun lalu, saya kaget melihat bibit bunga Anthurium yang beliau bawa saat menengok kami sekeluarga di Cikarang 10 bulan sebelumnya, sudah beranak pinak dan tumbuh subur di beberapa pot yang diletakkan didepan rumah orang tua saya itu (Perumahan Bumi Antang Permai Makassar).

Beberapa pot tanaman hias terlihat “mejeng” secara atraktif memperlihatkan bunga-bunganya yang bermekar indah sementara pot-pot kecil tanaman kaktus berjejer rapi disebuah rak tersendiri yang disediakan khusus dan diletakkan dibagian atas. Sungguh sangat indah untuk dinikmati.

Saya masih ingat betul, saat kami masih tinggal di Bone-Bone dulu, ayah saya begitu tekun memelihara tanaman disamping rumah dinas yang kami huni. Kebetulan terdapat tanah kosong yang cukup luas dan disana selain tanaman hias juga ketela rambat, pisang serta singkong.

Karena tinggal didaerah yang terpencil, kerapkali gaji ayah saya datang terlambat. Kami lalu memanfaatkan hasil kebun berupa singkong dan ketela rambat itu menjadi makanan kami. Ibu saya yang jago memasak, meramunya begitu dashyat menjadi makanan yang menggugah selera.

(lagi…)

Sepasang Telinga, Seluas Samudera Februari 12, 2009

Posted by amriltg in keluarga, renungan.
Tags: , , ,
1 comment so far


“WHEN you listen, you offer a package of the most valuable healing gifts you can give: compassion, consolation, and forgiveness”.
– James Kullander, taken from Gaia Community Website

Menjelang tidur malam, usai menceritakan dongeng, saya selalu menyediakan sepasang telinga saya dan membukanya lebar-lebar, untuk mendengarkan anak-anak bercerita.

Tentang apa saja.

Seremeh apapun itu.

Rizky sebagai anak terbesar akan bercerita mengenai apa yang telah dilakukannya hari itu.

Baik aktifitasnya disekolah maupun bermain bersama kawan-kawannya di dekat rumah. Ia menceritakannya lebih tenang, runtut dan terperinci. Namun ia kerap terusik ketika sang adik yang usil menganggunya ketika sedang bertutur.

Sementara si Bungsu Alya, biasanya bercerita lebih antusias, spontan, menggemaskan dengan gestur tubuh yang mendukung kisah-kisahnya, namun tidak sistematis. Ceritanya melompat-lompat, kadang membuat saya mesti lebih tekun dan serius menyikmaknya. Tapi tetap saja menarik dan saya sangat menikmatinya.

Wajahnya yang lucu membuat saya kerap tertawa terpingkal-pingkal melihatnya ketika ia bercerita. Kadang-kadang saat sedang asyik bertutur, tiba-tiba ia tertawa sendiri sambil menutup mulutnya menahan rasa geli tak tertahankan. Dan kami semua jadi bingung apa sebenarnya yang sedang ditertawakan serta apakah ada yang kami lewatkan dari ceritanya.

Menyenangkan rasanya mendengarkan kedua buah hati saya itu mengekspresikan kegembiraan, keresahan, kecemasan, harapan dan juga impian-impiannya, kepada saya, ayahnya, secara terbuka dan tanpa beban. Keharuan menyesak dada saat melihat binar kepuasan dimata jernih mereka usai menyajikan sepotong cerita pada saya.

Se-”tidak penting” apapun itu.

(lagi…)

“Biter Hamen” Dan Ketangguhan Mengatasi Persoalan Februari 8, 2009

Posted by amriltg in renungan.
add a comment

ENTAH ada dimana akal sehat Ervin Lupoe berada, ketika ia memutuskan membunuh kelima anak, istri dan akhirnya dirinya sendiri hari Selasa (27/1) waktu Amerika Serikat. Ervin menembak seluruh anggota keluarganya karena khawatir pada masa depan suram setelah kehilangan pekerjaan. Anak-anaknya ikut dibunuh karena dia dan istrinya, Ana, tidak yakin pada masa depan mereka bila diasuh orang lain. Alasan bunuh diri ini membuat Los Angeles dan sekitarnya gempar karena ditulis tangan oleh Ervin Lupoe dan dikirimkan via faks ke Stasiun KABC-TV (isi suratnya bisa baca disini)

Di awal suratnya ke stasiun TV KABC ia menulis, “Nama saya Ervin Lupoe, istri saya, Ana Lupoe, putri kami Britney 8 tahun, putri kembar kami Jaszmin-Jassely, dan putra kembar kami, Benjamin dan Christian, 2 tahun 4 bulan”.Pembukaan surat pria berusia 40 tahun itu sungguh menyiratkan ia adalah lelaki yang berbahagia dan memiliki segalanya. Lihatlah foto anak-anak Ervin yang dipajangnya di Facebook .

Setelah menembak mati istrinya, putri sulungnya, putri kembarnya lalu putra kembarnya, masih dengan revolver di tangan, di pagi yang naas itu, Ervin sempat menelepon 911 pukul 08.22 dan mengaku menemukan istri dan kelima anaknya telah tewas dirumah. Empat menit kemudian, polisi tiba dirumah Ervin di Wilmington tak jauh dari Pelabuhan Los Angeles. Jasad Ervin bersama ketiga putrinya ditemukan diruang tidur utama lantai atas sementara mayat istri dan putra kembarnya di kamar tidur belakang. Tragis dan sungguh membuat saya seketika merinding membaca beritanya
(lagi…)

“Mind Eye” Dan Kesigapan Mengantisipasi Kemungkinan Februari 7, 2009

Posted by amriltg in renungan.
Tags: ,
1 comment so far

“Your Mind’s Eye is your “mental television”, the personal channel you can tune in to see what could happen if the unexpected occurs. When you use your Mind’s Eye, you “look” at how situation might turn out, using a “questioning attitude” : to ask “WHAT could happen IF the unexpected occurs?” and HOW can this job be done more safely?”

–Tutorial Training STOP (Safety Training Observation Program) for Supervision (copyright by Dupont, 2004)

Minggu lalu (Jum’at 23/1) , saya dan sejumlah kawan menjadi peserta pelatihan sehari STOP (Safety Training Observation Program) for Supervision yang dilaksanakan secara internal dikantor tempat saya bekerja oleh Divisi Health, Safety & Enviroment. Modul pelatihan diambil dari materi pengantar STOP for Supervision yang dibuat oleh Du Pont. Suasana pelatihan berlangsung lebih interaktif karena disajikan pula video pengantar tiap membahas sebuah bab dari modul.

Pelatihan yang saya ikuti ini memberikan begitu banyak pemahaman dan wawasan baru tentang bagaimana usaha yang dapat kita lakukan untuk tetap memelihara spirit “Safety is Yours” yaitu tanggung jawab keselamatan adalah berada pada diri kita masing-masing. Pak Erick Wattimena, HSE Manager PT. NOV Indonesia menyampaikan materinya secara santai, komunikatif dan memikat disertai contoh-contoh aplikatif di lapangan.

Saya tertarik dengan uraian soal “Mind Eye” seperti yang diutarakan pada awal artikel ini. Kemampuan deteksi untuk “membaca” tanda-tanda awal bahaya bila sesuatu yang tidak diharapkan terjadi, secara sensitif melalui “mata fikiran”, perlu senantiasa diterapkan dalam kehidupan keseharian dan tidak sebatas pada aktifitas dikantor atau di pabrik saja.

Kemampuan ini dibangun dengan senantiasa bertanya pada diri sendiri, dampak apa yang timbul jika sesuatu yang tak diharapkan terjadi? Bagaimana pekerjaan dapat dilakukan secara lebih aman dan selamat dengan antisipasi lebih dini atas kemungkinan buruk yang dapat terjadi?

Sebenarnya ini bukanlah sebentuk sikap paranoid, namun lebih pada sebuah sikap waspada pada kemungkinan terburuk dengan membaca gejala-gejala tak wajar yang ada disekeliling kita. Kondisi lantai yang licin dan basah misalnya, merupakan sebuah gejala awal yang berpotensi menyebabkan seseorang celaka karena tergelincir. Dan untuk itu dibutuhkan upaya preventif untuk menghindari kecelakaan fatal itu.

(lagi…)

Ciuman Terakhir Di Hari Terakhir Februari 5, 2009

Posted by amriltg in perjalanan, renungan.
Tags: ,
add a comment

If tomorrow never comes
Will she know how much I loved her
Did I try in every way to show her every day
That she’s my only one
And if my time on earth were through
And she must face the world without me
Is the love I gave her in the past
Gonna be enough to last
If tomorrow never comes


–”If Tomorrow Never Comes”, Dinyanyikan oleh Ronan Keating

SETIAP kali saat berangkat bekerja dipagi hari, saya selalu memeluk erat lalu mencium pipi dan kening kedua anak tercinta serta istri saya, dengan rentang waktu yang cukup lama. Pada awalnya mereka rikuh dan tak nyaman. Apalagi sang istri yang sempat curiga dan menganggap tindakan aneh bin ajaib saya ini sebagai salah satu gejala awal penyakit “Puber Kedua” kronis yang konon kerap melanda pria-pria diambang usia 40.

Tapi belakangan ini, “prosesi ciuman” itu sudah menjadi suatu kebiasaan tersendiri.

Terlebih ketika saya katakan pada mereka bahwa bisa jadi Hari ini adalah Hari Terakhir Papa bersama kalian. Saya, Rizky, Alya bahkan sang ibu sekalipun tak akan pernah bisa menebak apakah dihari itu, saya , sang tulang punggung pencari nafkah keluarga, akan menemui ajal disuatu tempat, disuatu waktu yang tak seorangpun tahu dan tak akan pernah lagi bertemu dengan mereka setelah itu. Ini telah menjadi sebuah misteri kehidupan yang niscaya adanya. Tak terelakkan.

Apalagi jika melihat fakta bahwa setiap hari kerja saya mesti menempuh perjalanan jauh antara Cikarang ke Cilandak yang berjarak 40 km dan tentu memiliki resiko sangat tinggi mengalami kecelakaan di Jalan.

Saya ingin memaknai dihari saya berangkat kerja sebagai hari terakhir bertemu mereka. Dan akan mempergunakan hari itu dengan tak akan melewatkan momen-momen terindah sedikitpun dengan orang-orang yang saya cinta.

Kelak bila “hal yang tak diharapkan tapi pasti datangnya” itu tiba, maka paling tidak tak ada rasa penyesalan yang tertinggal dibatin anak-anak dan istri saya, bila belum sempat melakukan ciuman terakhir untuk saya ketika masih hidup. Mungkin sebuah “tradisi” yang aneh dan menakutkan bagi segelintir orang. Terlebih bicara soal kematian, acapkali menjadi hal tabu yang dibicarakan.

Tapi bagi saya, dengan menganggap setiap hari adalah hari terakhir, maka saya selalu terpacu untuk melakukan hal terbaik minimal buat diri saya dan keluarga. Saya akan menghargai hari tersebut dengan berusaha tampil berinteraksi dengan orang lain disekitar saya dengan tingkatan paling unggul. Tak akan ada sedikitpun terlintas di benak saya untuk menebar rasa permusuhan serta kejahatan.

(lagi…)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.